Strategi TNI : Jika Pasukan Siluman Tewas Terbunuh Oleh Gerilyawan, Nama dan Jumlah Korban Tidak Akan Diumumkan!

Pasukan siluman TNI yang kematiannya selalu menjadi rahasia lembaga TNI dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.@WPNewsOrg

Westpapuanews.Org, JAKARTA : Tentara Nasional Indonesia atau TNI memiliki ribuan pasukan siluman yang siap dikerahkan dalam operasi-operasi khusus seperti operasi pembebasan sandera, operasi membentuk kelompok-kelompok milisi merah-putih di tengah-tengah warga, membentuk sistem perlawanan rakyat di Papua, operasi memeras perusahaan kelapa sawit atau perusahaan HTI, operasi sabotase, operasi mendukung kelompok Islam radikal dan operasi penyerbuan terhadap basis kelompok bersenjata yang tidak mungkin dilakukan oleh pasukan reguler.

Anggota pasukan siluman biasa direkrut dari pasukan reguler, mereka yang telah dipecat dari TNI atau mereka yang melakukan desersi tetapi berhasil dijinakkan kembali. Pasukan siluman mendapat pelatihan khusus dengan materi latihan yang jauh berbeda dari materi latihan pasukan reguler.

Mereka dilatih secara khusus untuk bisa menempatkan diri di berbagai lingkungan sosial dan menyesuaikan diri terhadap segala situasi seperti hewan Bunglon.

Setelah dilatih dalam rentang waktu tertentu, mereka akan diterjunkan langsung ke wilayah-wilayah strategis yang harus direbut atau dipertahankan.

Berbagai misi khusus harus mereka jalankan demi menyelamatkan muka lembaga TNI atau muka negara di mata rakyat Indonesia dan dunia Internasional.

Papua sebagai salah satu wilayah konflik tanpa penyelesaian damai dan bermartabat menjadi sasaran empuk pertaruhan keahlian pasukan siluman TNI yang sangat bertanggungjawab mempertahankan wilayah konflik ini tetap dalam bingkai NKRI.
Berbagai operasi khusus telah dijalankan di hampir seluruh tanah Papua dengan hasil yang beragam.

Di beberapa wilayah pasukan ini menuai hasil yang baik, misalnya pembentukan milisi Jafar Umar Thalib di Kota Jayapura dan Keerom yang ditandai dengan bangkitnya kelompok Non Papua yang siap melawan Orang Asli Papua ketika situasi memungkinkan.

Operasi ini tampak berhasil saat konflik rasisme tahun 2019 lalu, dimana bermunculan banyak milisi Islam berisi Orang Non Papua yang secara nyata mengancam Orang Asli Papua.

Operasi lainnya adalah pembentukan Milisi SORANDA dan OSEA di Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Pegunungan Bintang, yang melibatkan sejumlah pasukan siluman bekerja sama dengan Kopassus, Dandim setempat dan beberapa Koramil.

Operasi ini secara khusus menyasar masyarakat yang tidak berpendidikan yang diketahui memiliki sejarah konflik antar suku, sehingga mereka dikelola dengan cara membangkitkan konflik masa lalu, membangkitkan semangat anti suku dan semangat balas dendam. Tidak jarang, masyarakat yang telah ‘dibina’ dan berhasil memeluk semangat anti suku biasa dieksploitasi oleh banyak politisi lokal untuk kepentingan Pemilu Legislatif dan Pemilihan Kepala Daerah.

Dari data yang ada pada kami, kelompok SORANDA dan OSEA di Boven Digoel mulai tidak efektif setelah masyarakat yang awalnya tertipu oleh pasukan siluman TNI, Kopassus, Dandim dan Danramil setempat mulai sadar ketika beberapa aktivis Papua menyusup masuk ke kampung-kampung dan memberikan pemahaman kepada para orang tua.

Ada juga penolakan terhadap pasukan siluman TNI dan Kopassus karena ulah bejat salah satu anggota pasukan siluman yang awalnya telah diterima warga, kedapatan melakukan tindakan asusila dengan memperkosa seorang anak gadis salah satu tokoh masyarakat kampung yang ternyata masih dibawah umur.

Dalam catatan kami selama 6 tahun terakhir, pasukan siluman TNI mulai dikerahkan secara agresif untuk memadam api perlawanan rakyat Papua yang sejak dulu dijaga dan dipertahankan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM. Mereka terlibat di banyak pertempuran dan misi-misi rahasia untuk menerobos masuk ke jantung pertahanan TPNPB-OPM di setiap Komando Daerah Pertahanan atau KODAP.

Dalam banyak kasus, pasukan siluman ini banyak yang terbunuh di medan tempur, mati mengenaskan di tangan pasukan TPNPB-OPM, tetapi tidak pernah diumumkan.

Jumlah mereka yang mati terbunuh berikut nama-nama mereka selamanya menjadi rahasia Institusi TNI dan tidak sedikit DANA yang selalu dikeluarkan untuk menyumbat mulut keluarga duka, terutama anak-anak yang menjadi YATIM dan para istri mereka yang menjadi JANDA.

Keberadaan pasukan siluman TNI pernah dibeberkan beberapa anggota Brimob yang kecewa ketika rekan mereka Anggota Detasemen B Brimobda Papua bernama Brigpol Firman ditembak mati oleh TNI pada Rabu, 15 November 2017 di Mile Point 69 Tembagapura.

Informasi terbunuhnya Brigpol Firman oleh TNI kemudian bocor dan menjadi bahan diskusi di Grup Whatsapp Intelijen Polda Papua dan Mabes Polri. Anggota Brimob dan Polisi yang kecewa atas kematian rekannya saat itu meminta Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menuntut pihak TNI.

Mereka bahkan telah memberikan rekaman permintaan maaf sambil menangis dari Pangdam XVIII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George Elnadus Supit di hadapan para prajurit Brimob di Timika dan video tersebut telah ditonton Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Tetapi Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mendiamkan hal itu, karena pembunuhan Brigpol Firman merupakan bagian dari strategi dia bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk membuktikan bahwa konflik di areal PT Freeport telah merenggut nyawa prajurit TNI maupun Polri sehingga harus dilakukan operasi militer besar-besaran. Dan itu terbukti, Operasi Militer besar-besaran untuk mengejar TPNPB-OPM benar dilakukan.

Melihat sikap Kapolda Papua dan Kapolri yang tidak menghargai nyawa Brigpol Firman dan tidak menuntut pihak TNI, beberapa Anggota Brimob mengambil inisiatif sendiri untuk melakukan pembalasan. Mereka berhasil menembak mati 4 Pasukan Siluman TNI yang berkeliaran di sekitar Tembagapura.

Para petinggi TNI mengetahui kejadian ini tetapi tidak mengambil langkah-langkah selanjutnya, karena beranggapan bahwa kematian 4 Anggota Pasukan Siluman di tangan Brimob merupakan pembalasan yang setimpal dengan nyawa Brigpol Firman.

Demikian-lah, hal buruk ini terus terjadi, nyawa pasukan siluman TNI seolah-olah sudah digadai untuk kepentingan lembaga TNI maupun keselamatan NKRI, maka sejak Tahun 2018 sampai tahun 2020, kematian banyak pasukan siluman TNI di tangan pasukan TPNPB-OPM di Nduga, Intan Jaya, Tembagapura dan Pegunungan Bintang TIDAK PERNAH DIUMUMKAN.□

Facebook Comments