Aktivis Militan Papua Internasional Demo di Kantor Perdana Menteri Inggris, Tolak Serangan Militer dan Sanksi AS ke Iran

Aktivis Militan Papua Internasional Serogo Tabuni dalam aksi demo kelompok Marxist di Downing Street, Westminster, London.@WPNewsOrg

Westpapuanews.Org, LONDON/United Kingdom UK — Aktivis Militan Papua Serogo Tabuni turut mengambil bagian dalam aksi demo di Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street, Westminster, London, Inggris Raya pada Rabu (26/06/2019) kemarin. Aksi demo dengan tema “Don’t Atrack Iran – Downing Street Protest” itu menolak rencana serangan militer Amerika Serikat ke Iran dan menganggap sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika terhadap Iran sebagai Terorisme Ekonomi.

Aksi demo memperjelas tuntutan dengan orasi-orasi dan tulisan poster berbunyi “Don’t Attack Iran”, “No WAR with IRAN – Down With Imperialism”, “NO to WAR”, “SANCTION are ECONOMIC TERORISM”, “No to TRUMP, No to WAR”.

Serogo Tabuni yang juga anggota dari Marxist Student Federation di Universitas Oxford, Inggris mengatakan, aksi demo melibatkan Marxist International Tendency, Marxist Student Federation, Socialist Worker dan beberapa organisasi lain berhaluan Marxis.

“Aksi demo ini menolak rencana serangan Amerika ke Iran karena perang tersebut didasari kepentingan Imperialisme Amerika untuk monopoli sumber minyak bumi di Iran dan kawasan Timur Tengah,” papar Serogo kepada Westpapuanews.Org.

Dikatakan Serogo, keterlibatan Aktivisi Militan Papua dalam aksi demo ini adalah bentuk solidaritas bangsa Papua terhadap rakyat Iran yang juga menjadi korban kejahatan Imperialisme Amerika seperti rakyat Papua.

Rencana serangan militer Amerika dan sanksi terhadap Iran dipicu dari ketegangan yang bermula ketika Tentara Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak jatuh drone pengintai RQ-4A Global Hawk milik Amerika pada Rabu (19/6/2019) pekan lalu.

Lokasi jatuhnya drone yang bisa terbang setinggi 60.000 kaki itu menjadi perdebatan antara Amerika dan Iran yang sama-sama mengklaim koordinat. Pihak Iran, dengan memamerkan bangkai drone di beberapa saluran televisi menyatakan, drone yang ditembak itu ditemukan sekitar 6 kilometer dalam wilayah mereka.

Sementara pihak Amerika menyatakan drone itu jatuh di perairan internasional. Atas insiden ini, Presiden Amerika Donald Trump dilaporkan langsung memerintahkan serangan militer sebagai balasan menggunakan jet tempur dan kapal perang.

Tetapi belakangan Trump membatalkan serangan itu 10 menit sebelum dieksekusi karena mendapat laporan bakal ada 150 korban tewas.

Sebagai gantinya, Trump dikabarkan memerintahkan serangan siber yang menyasar sistem rudal untuk melumpuhkan baterai pendukung rudal darat udara serta memata-matai jaringan pendukung. Namun, Iran menyebut upaya itu gagal.

Sebagai kelanjutannya, pada Senin (24/6/2019) lalu, Trump mengumumkan paket sanksi kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sanksi juga diberikan kepada Menteri Luar Negeri Mohammed Javad Zarif serta komandan Garda Revolusi Iran.

Trump awalnya menyatakan, sanksi tersebut dijatuhkan sebagai balasan setelah drone mereka ditembak jatuh. Iran kemudian merespons sanski Trump dengan melontarkan kecaman serta menyatakan Amerika telah “menutup pintu diplomasi” karena menjatuhkan sanksi bagi petinggi mereka.

Presiden Iran Hassan Rouhani melontarkan kecaman serta ejekan kepada Presiden Trump. Rouhani mengatakan, AS melakukan kebohongan ketika menawarkan perundingan. Selain itu, Rouhani juga melontarkan ejekan bahwa “AS menderita keterbelakangan mental”.□

Berikut foto-foto aksi yang diabadikan Westpapuanews.Org :

Facebook Comments