Kritik Balik Terhadap Akademisi Penjilat Kolonial NKRI Marinus Yaung Oleh Mahasiswa Uncen

Oleh: Kiri Keroman

Sikap Pesimis Seorang Akademisi Uncen; MARINUS YAUNG, dalam menelaah kampanye politik luar negri West Papua di Oxford, London.

Pertama, beliau berargumentasi menggunakan perspektif refleksitas kontruktivisme; tetapi anda lebih dominan menelaah politik West Papua dari sisi perekonomian dan perdagangan dunia (World of Trade and Economy) sudah semestinya sangat tidak signifikan bagi Papua Barat. Walaupun hubungan diplomatik Indonesia dan Inggris yang erat, itu tidak menutup kemungkinan untuk rakyat Papua berjuang menuntut kemerdekaan secara politik.

Kedua, keluarnya Inggris dari Brexit itu hanya mempengaruhi perekonomian domestik bukan berarti berdampak pada kemacetan kampanye politik luar negri West Papua. Amerika, Inggris dan China sama-sama negara penguasa yang memegang Hak Veto di UN, tetapi juga mempunya kepentingan ekonomi yang sama di West Papua. Jadi, sudah sewajarnya sebagai negara penguasa antipati, acuh tak acuh, tidak ditanggapi. Tetapi lebih enggan kompromi dengan kolonial Indonesia dan menjaga hubungan diplomatik luar negri Indonesia, karena Inggris tidak ingin rugi kehilangan saham minyak kelapa sawit di Papua Barat.

Ketiga, Statement anda menunjukan integritas diri anda sebagai akademisi yang “OPORTUNISME”, yang selalu menjadi senjata penjajah untuk menghasut rakyat dan menjajah melalui media-media propaganda milik kolonial.

Keempat, Mengapa demikian? Sebab, dengan pernyataan anda menghasut rakyat Papua untuk tidak berjuang, lemah, pasrah, terima kenyataan, dsb.
Permainan ini tidak jauh beda dengan kerja-kerja bin/intelejen untuk menghilangkan kesadaran, akal sehat serta jati diri supaya tunduk dan tidak percaya lalu menjadi penjilat penjajah.

Kelima, Rakyat Papua sendiri menilai siapa tokoh politik yang pro-rakyat dan juga siapa yang opportunis hidup sebagai benalu. Sedikit-sedikit kritik negara dengan berpura-pura pro-rakyat. Tidak lama kemudian balik menjatuhkan perjuangan rakyat Papua seolah-olah pro-penguasa. Model begini bagi rakyat Papua sudah lazim mencari posisi aman!

Kelima, Rakyat Papua Barat tetap optimis untuk berjuang merebut kedaulatannya dari tangan penjajah, tanpa kompromi kepada siapa pun entah itu dia penjajah, opotunisman, pemerintah dsb. Sebab, kami sadar bahwa kemerdekaan bukanlah bagaikan pinang ojek yang makan saling memberi gratis melainkan dibeli. Artinya kebebasan itu dibeli dengan darah, nyawa, jeritan, berjuang keras demi merahi kebebasan.

Rakyat pejuang, Pejuang Rakyat!

Facebook Comments