Pangdam Cenderawasih Mengakui Empat anggota BIN Terbunuh Menyamar Sebagai Guru di Yahukimo

WestPapuaNews.Org  YAHUKIMO: Pangdam  XVII Cenderawasih, Amrin Ibrahim membenarkan dan mengakui pernyataan Juru bicara International KOMNAS TPNPB Sebby Sambom dan pernyataan pejuang kemerdekaan Papua Barat Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, Komando Pertahanan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, yang telah  mengklaim menembak mati empat orang Badan Intelijen Negara  yang menyamar sebagai tenaga guru di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Senin (2/2/2026) yang lalu.

WestPapuaNews.Org ‎Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka mengatakan pihaknya berhasil menembak mati empat orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai guru, termasuk di antaranya ada orang asli Papua yang secara sengaja dimanfaatkan oleh penjajah kolonial aparat kriminal bersenjata TNI/POLRI yang berusaha mati-matian untuk mengadu domba sesama orang asli Papua dan pejuang kemerdekaan Papua Barat TPNPB yang menyerahkan nyawanya demi mama Papua yang sedang menangis atas penjajahan kolonialisme Indonesia diatas tanah Papua. Kami mendukung perjuangan tuan pemimpin pergerakan Papua Merdeka Internasional dan ULMWP Benny Wenda yang berjuang murni menyerahkan hidupnya bagi pembebasan tanah Papua.

WestPapuaNews.Org Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka menelpon WPNews crews via telepon selular bahwa penembakan tersebut dilakukan setelah pasukan TPNPB melakukan investigasi dan memantau keberadaan guru tersebut selama 6 bulan bahkan guru ini masih aktif sebagai pasukan TNI menerima gaji langsung dari Panglima TNI perbulan bahkan kami telah menemukan barang bukti guru ini selalu masuk keluar di post TNI dan Markas Besar  Pangdam  XVII Cenderawasih di Jayapura dan sekaligus pernyataan Panglima Kodam XVII telah melarang orang asli Papua untuk bertugas sebagai guru dan petugas kesehatan di wilayah-wilayah konflik batas “Zona Merah” kami telah menempatkan agen-agen aktif tentara, polisi seluruh sekolah-sekolah dan petugas kesehatan di Yahukimo dengan tugas tidak boleh memberikan kenyamanan dan damai bagi orang asli Papua yang berdomisili di Yahukimo sebab konflik sangat penting agar organisasi gerakan kriminal bersenjata  TNI/POLRI mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan mengatasnamakan massive military operation  lahan empuk untuk memperkaya diri, jabatan dengan mengorbankan rakyat serta pasukan yang akan mati cuma-cuma sebab kematian mereka adalah mati untuk pribadi sambil elit TNI memperkaya diri sebesar-besarnya. 

WestPapuaNews.Org TPNPB  Ultimatum Pemerintah Indonesia segera evakuasi guru dan tenaga medis di Papua dan anggota kriminal bersenjata telah melanggar kode etik perang  dan tidak mendengar ultimatum kami. Sekaligus guru dan petugas Kesehatan tidak mematuhi ultimatum kami. Tidak mendengar pernyataan kami karena seluruh agen intelijen militer Indonesia telah melewati batas zona merah atau wilayah perang di Yahukimo, dan tidak pernah mendengarkan peringatan TPNPB terkait pemberhentian aktivitas sipil seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, kantor-kantor, sopir dan lain sebagainya.

WestPapuaNews.Org “Seluruh sekolah, rumah sakit dan kantor-kantor, kami terpaksa mengeluarkan perintah tutup dan eksekusi karena semua pekerja tenaga guru dan medis  bukan lagi benar-benar dijalankan oleh fungsi sipil. Tetapi kedapatan banyak data yang kami terima telah disusupi oleh anggota BIN,” kata Kopitua Heluka dalam siaran pers yang diterima WPNews, di Jayapura dini hari  Selasa (3/2/2026).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *