Surat Terbuka Kepada Bapak Trajanus Yembise untuk Segera Mundur Secara Sukarela dari Jabatan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih

180 Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Uncen yang terancam Drop Out.@WPNewsOrg

DARI : 128 Mahasiswa Asli Papua Yang Diancam DO dan BEM,DPM FK serta GMKP-OAP

Shalom, jika ada syalom bapak Trajanus Yembise, apa kabar? Kami yakin anda pasti baik dan sehat-sehat saja. Perkenalkan, kami adalah mahasiswa/i FK Uncen yang adalah anak-anak anda sendiri. Kami adalah mahasiswa FK Uncen yang berjumlah sekitar 128 orang mahasiswa yang didominasi oleh anak-anak asli Papua yang anda ancam akan keluarkan lewat penandatanganan sepihak surat pernyataan yang sudah kami tanda tangani, dan ada pula yang tidak tanda tangan karena keberatan dan merasa akan membunuh masa depan kami untuk menjadi dokter seperti anda.

Selamat siang bapak. Iya bapak, Kami akan panggil bapak saja. Meski sebutan ini dirasa tidak pas juga untuk anda karena realita selama ini, kami melihat tidak ada perasaan kebapaan yang terekspresi pada diri anda di FK Uncen atas kami. Melalui surat ini, kami akan mengutarakan isi hati kami yang terpendam, yang kami simpan selama ini dari semua tindakan, bahasa dan sikap kepemimpinan bapak selaku dekan FK bersama seluruh jajaran. Kami merasa semua ini tidak bisa disembunyikan atau dipertahankan lagi. Karena kami sudah muak, sakit, bosan, sedih bahkan kami menangis dalam hati, di rumah hingga di kampus; yang tentunya bapak tidak pernah tahu dan bahkan juga tidak akan peduli. Itu sebabnya sekarang kami marah. Marah kepada bapak, karena bapak rupanya tidak menampilkan sikap seperti seorang bapak, dekan, pemimpin dan anak Tuhan sebagaimana yang bapak biasa hipnotis dengan bahasa angin surga ke kami. Kami kecewa dan kami marah, karena bapak tegah sekali bersikap kasar dan tidak berperikemanusiaan. Tidak bersikap sebagai seorang bapak, yang mustinya dengan dilandasi oleh firman Tuhan mau dan tergerak untuk membantu kami, agar cita-cita kami untuk menjadi dokter bisa terwujud kelak.

Melalui surat ini, kami kira sudah cukup, kami mahasiswa ditendang, diopor dan ditarik ke sana kemari bagaikan kerbau selama proses pendidikan dengan segala aturan-aturan yang selalu berubah-ubah dan tidak konsisten yang terkesan hanya sebagai upaya untuk menghambat kami untuk menjadi dokter. Kami menangis, kami merasa hampa dan tertekan. Kenapa bapak tegah mempersulit kami dengan tidak pernah mau ambil suatu kebijakan protektif seperti saran rektor dan dosen-dosen lainnya di Uncen agar kami bisa segera selesai dari FK. Bapak tahu,sudah berapa tahun kami di FK? Kami ada yang sudah kuliah di FK Uncen sejak tahun 2010, 2011, 2012, 2013, 2014. Kami sudah 6-10 tahun menjadi mahasiswa pendidikan akademik, sebagai anak-anak bapak. Padahal sesuai aturan akademik jangka waktu kuliah di praklinik itu hanya 4 tahun. Tahukah bapak, berapa puluh juta-milyar uang yang telah kami semua keluarkan selama mengenyam pendidikan akademik di FK dengan satu harapan, yaitu dapat menjadi dokter? Pernahkah bapak berfikir, akan bagaimana perasaan kekecewaan kami dan orang-orang tua kami, ketika mereka tahu kami dikeluarkan dari FK Uncen oleh bapak secara tidak terhormat setelah ditahan selama belasan tahun dengan hasil akhir: tidak jadi dokter?

Kenapa bapak tidak pernah mau ambil satupun kebijakan untuk membantu kami anak-anak, sejak tahun 2015? Kami merasa bapak tidak memiliki hati nurani karena di kampus FK lain, para dosen dan dekan (pimpinan) bisa membantu anak-anak mereka dengan sikap dan langkah yang bijaksana. Sehingga banyak dari mereka bisa selesai dan dapat bekerja untuk membahagiakan orang tua dan keluarga mereka. Bapak kenapa tidak pernah ambil kebijakan yang sifatnya berpihak, melindungi dan memberdayakan kami, anak-anak bapak sendiri? Apa yang susah bapa. Bapa selama ini bilang, tidak boleh kita ambil kebijakan dll, tetapi kenapa banyak kampus lainnya di Uncen atau di luar Papua bisa melakukannya? Misalnya di fakultas lain, ketika mahasiswa tidak lulus dalam suatu mata kuliah, maka mereka bisa memberikan tugas dan makalah, atau apapun agar nilai mereka bisa didongkrak sehingga mereka bisa lulus dan selesai tepat waktu. Dengan IPK yang memuaskan pula.

Jikalau bapak bilang, bapak tidak mau bantu dengan buat kebijakan begitu, dengan alasan ketika kita menjadi dokter kita bukan mau kerja untuk mengobati mobil, robot atau batu? Kan kita tahu bersama bahwa filosofi pendidikan kedokteran itu, “Long Life Studi” atau belajar sepanjang hayat/hidup. Artinya, kita akan terus belajar sepanjang hidup sampai mati. Bukan saja hanya di Kampus saat ujian selama pendidikan akademik, tapi saat praktek (koas) bahkan saat bekerja melayani manusia nanti. Karena memang cakupan materi kedokteran itu tidak sedikit, melainkan sangat luas dan selalu terupdate. Itu kan berarti ketika kami menjadi mahasiswa FK mestinya harus diarahkan, dibimbing dan didorong karena kami sejak awal adalah orang yang sudah diseleksi, lulus dan dipilih oleh Tuhan agar bisa bisa menjadi dokter sebagai perpanjanjangan tangan Tuhan untuk mengobati orang yang sakit dan menderita. Lalu, jika ada yang kurang, kan bisa dipelajari dijenjang selanjutnya saat koas atau praktek bahkan saat kerja. Karena kami tahu yang kami akan hadapi dan obati adalah manusia; saudara kami sendiri, maka kami pasti akan mempersiapkan diri secara baik dan benar, sebelum menyentuh mereka sebagai pasien. Dan itu sudah dialami oleh banyak anak-anak Papua yang sudah selesai menjadi dokter dan bekerja di tengah masyarakat.

Bukan rahasia kan bapak bahwa di FK Uncen sejak dahulu, para mahasiswa ketika akan ujian hanya selalu belajar menjawab soal-soal sebelumnya, maupun bocoran soal yang entah oleh siapa sudah beredar biasanya di kalangan mahasiswa pendatang. Lalu semua hanya fokus hafal kunci jawaban dan besoknya saat ujian banyak yang lulus. Bukankah begitu fakta yang terjadi selama ini sejak dulu? Karena itu juga, kalian dosen, selalu arahkan kami anak-anak Papua agar patuh dan selalu bergabung dengan kaum pendatang yang dominan, agar bisa dapat bocoran soal sehingga bisa lulus ujian. Bapak, kami rasa barang itu bukan rahasia ya. Semua sudah tahu, jadi yang ada selama ini sebenarnya adalah bukan mahasiswa yang bodoh dan pintar. Tetapi mahasiswa yang rajin bergabung kepada para pendatang, jawab semua bocoran soal, atau patuh pada dosen-dosenlah yang lulus. Sedangkan di luar itu, jarang mendapatkan bocoran soal sehingga mereka harus bekerja sendiri dengan belajar sendiri dengan serius dan tekun untuk lulus. Tapi tidak jarang banyak yang tidak lulus pada kenyataannya. Bukankah dari situ banyak mahasiswa FK asli Papua jatuh karena mereka adalah minoritas, dan kurangnya kedekatan kepada kaum dominan baik mahasiswa dan dosen yang ada?

Dan sudah jelas kan bapak, bahwa selama ini ada permainan di bagian input nilai dan output nilai? Mungkin bapa tidak tahu, karena bapak kan hanya dijadikan “cashing”, alias bemper atau kasarnya “boneka” agar dibilang dekan FK sudah orang asli Papua. Karena banyak mahasiswa Papua sering mengalami keanehan output nilai yang berbeda di antara staf yang satu dengan yang lain? Bukan juga rahasia bahwa hampir setiap dosen FK tidak pernah memeriksa lembar jawaban ujiannya sendiri, tetapi karena sibuk atau apa, hampir sering memberikan lembar jawaban kami kepada pihak staf input-output nilai yang dipegang oleh suku pendatang tertentu. Dimana di situ mereka biasanya menipu mahasiswa asli Papua bahwa kertas ujian mereka akan diperiksa oleh sistem komputer. Tapi kenyataannya terdengar menjadi lucuh dan aneh bagi kami, karena lembar soal yang kami pakai ialah copian Lembar Jawaban Komputer. Mana mungkin LJK copian dapat diperiksa oleh sistem Komputer yang otomat? Kalo memang benar kata saudari Hanny demikian, maka kami minta agar komputer itu dan sistem pemeriksaannya ditunjukkan ke kami agar kami percaya.

Lalu atas dasar apa bapak harus bilang dan yakin dengan keras bahwa hanya dengan belajar serius seorang mahasiswa FK Uncen bisa lulus, tanpa pernah lihat ke bawah dan menyadari adanya permainan massif dari para kelompok dominan yang kalian rajin kontrak? Mestinya dengan melihat dan menyadari realitas seperti itu, bapak dapat membuat kebijakan khusus agar mahasiswa bisa bisa dibantu dan didorong dengan memberikan tugas berupa makalah apabila beberapa kali remedi gagal. Tapi kenapa bapak tidak mau dan bersikeras tidak bisa membantu mereka? Ada apa? Sementara roh, jiwa dan semangat cita-cita mereka untuk menjadi dokter sudah membulat dan diketahui publik Karena mereka adalah yang terpilih dan terpanggil untuk menjadi dokter. Tuhan saja bisa menolong, mengampuni menyelamatkan dan membantu mereka yang susah dan disakiti.

Bapak sebagai salah satu majelis, bahkan anak seorang Pendeta adalah tidak etis jika selalu mengatakan bahwa tidak ada kebijakan-kebijakan di FK Uncen, sementara di bagian lain (mungkin) di luar dari pengetahuan dan kontrol bapa, terjadi permainan kotor sukuisme dan rasis. Banyak kasus sudah terungkap karena kami alami sendiri. Mengapa setiap anak-anak pendatang yang mengurus nilai, KHS, dan lain sebagainya selalu bisa segera selesai dan beres tanpa hambatan berarti ? Sedangkan ketika kami anak-anak asli Papua yang urus selalu menjadi ribet, disuruh ke sana kemari, dilayani dengan ekspresi aneh-aneh dan pelayanan yang tidak bersahabat karena terlihat ada jarak, dan ganjalan. Kami kadang di bilang harus ketemu ini dan itu. Minta acc ini dan itu dsb dsb. Tapi kami berupaya selalu mengikuti dan mematuhi semua itu, karena kami sadar dan tahu bahwa aturan musti diikuti. Tapi anehnya, setelah kami ikuti aturan-aturan tertentu, kami tidak jarang harus terlambat. Akhirnya kami selalu ketinggalan.

Bapak Trajanus, saudara harus ingat, bahwa saudara menjadi pimpinan FK karena buah dari perjuangan mahasiswa FK Uncen selama 1-2 tahun pada tahun 2013-2015 melalui aksi demonstrasi panjang mahasiswa menuntut perbaikan fasilitas FK Uncen yang berbuntut dengan tuntutan pergantian dekan. Bapak harus tahu diri, malu dan bahkan dengan rendah hati menerima dan mengakui fakta itu. Karena tanpa demonstrasi mahasiswa FK kala itu, tidak mungkin saudara dapat menjadi dekan, menggantikan posisi Ibu Paulina Watopa. Bapak jangan dengan angkuh dan sombong sembari menikmati jabatan dekan dengan segala kemewahan yang ada, seolah jabatan itu saudara dapat dan raih karena kehebatan, kelayakan dan pencapaian karir dosen atau dokter. Bapak harus akui bahwa bapak saat itu sebenarnya tidak layak jadi dekan, karena belum memenuhi syarat kepangkatan dan golongan (minimal Lektor Kepala) sesuai STATU Uncen No. 2 tahun 2013 untuk menjadi dekan di Universitas Cenderawasih. Karena bapak bukan orang Uncen tetapi orang Rumah Sakit, dinas Kesehatan Provinsi Papua. Tetapi karena ketiadaan sosok dekan asli Papua,maka waktu itu, kami terutama yang tergabung di dalam Gerakan Mahasiswa Kedokteran Peduli Orang Asli Papua (GMKP-OAP) menyetujui bahkan menandatangani surat pernyataan dukungan di atas materai 6000 untuk mendukung saudara menjadi dekan FK. Dan hal itu disetujui dan didukung oleh PJS dekan FK, Bpk Yohanes Krey dan rektor Uncen, Bpk Onesimus Sahuleka pada 2015 lalu.

Bapak mestinya sadar bahwa itu artinya bapak tidak layak untuk menjadi dekan. Tetapi karena ada kebijakan rektor dan MENRISTEKDIKTI dalam memberdayakan orang asli Papua, bapak diterima sebagai dekan dengan segala kekurangan yang anda miliki demi menyelamatkan mahasiswa FK yang akan wisuda dan dilantik jadi dokter. Lalu atas dasar apa, bapak harus mengatakan bahwa bapak tidak akan memberikan kebijakan-kebijakan untuk 128 orang mahasiswa yang anda ancam mau DO? Bapak mustinya sadar dan buka mata, hati dan iman, bahwa FK Uncen juga didirikan di Papua 2002 karena kebijakan pemerintah Pusat bersamaan dengan diberikannya UU Otonomi Khusus pada 2001.

Bapak juga mustinya sadar dan paham, dengan rendah hati, dan bijak layaknya sungguh-sungguh seorang majelis dan anak pendeta bahwa ditunjuknya Ibu Paulina Watofa pada 2002 sebagai dekan FK adalah sebagai bentuk kebijakan Uncen melihat ketiadaan SDM Dokter meski juga tidak sama sekali memenuhi syarat untuk menjabat sebagai dekan. Dan demikian juga bapak harusnya akui, sekali lagi akui, bahwa bapak dan hampir semua spesialis yang mengenyam pendidikan di FK luar, diterima dan dididik disana melalui suatu kebijakan afirmatif khusus bagi orang asli Papua. Hal itu sudah kami dengar dari beberapa dokter spesialis yang adalah juga alumni-alumni FK Uncen yang kini sudah menjadi dokter-dokter spesialis yang profesional di tanah Papua.

Dengan demikian, apa yang menjadi hambatan, ganjalan dan alasan dasar bagi anda untuk tidak mengambil suatu kebijakan khusus afirmatif dan protektif untuk mahasiswa FK saat ini? Apa karena bapak tidak mau, semakin banyak dokter yang akan dihasilkan FK, maka derajat kesehatan orang Papua akan semakin baik, sehingga kantong bapak akan mulai menipis karena tidak ada pasien yang bisa diobati, dioperasi dll atau ada apa di balik ini semua? Atau bapa sedang menjadi penjajah baru bagi orang Papua dengan menunjukkan sifat dam gaya: Papua jajah Papua, Papua bunuh Papua dan Papua tipu Papua?

Bapak Dekan yang terhormat, anda harus ingat bahwa perbedaan pokok anda dengan Ibu Paulina Watofa adalah: kalau dulu ibu Paulina , meski seorang perempuan dia tegas, keras untuk mengutamakan hak anak-anak asli Papua untuk masuk FK. Bahkan anak-anak IPS sekalipun ia pernah terima masuk FK, karena dia tahu bahwa Papua membutuhkan banyak dokter untuk meningkatkan derajat kesehatan orang Papua yang selalu terperosok dari seluruh provinsi di Indonesia. Ibu Paulina bisa mempertaruhkan diri dan jabatan hanya untuk meluluskan dan menggolkan anak-anak Papua agar mereka bisa selesai. Meskipun kenyataan lain kala itu ia abaikan karena hanya seorang diri mengurus FK Uncen. Tetapi apa yang bapak lakukan saat ini, jauh melenceng bahkan di luar dari tujuan hadirnya FK Uncen.

Bapak adalah seorang putra Papua asal Biak, negeri para Mambri yang keras dan karang. Yang dalam hal keberpihakan, proteksi dan pemberdayaan mereka adalah orang-orangnya yangn sudah dicatat sejarah. Namun realitas yang ada pada diri bapak tidak sama sekali menampilkan watak dan karakter seorang mambri. Anda seperti sebagian besar orang Jawa, orang Toraja dan orang Non Papua lainnya yang kadang punya hati. Menyangkal saudara-saudaramu sendiri. Ingin membunuh masa depan anak-anakmu sendiri. Anda tidak mau ambil kebijakan untuk berpihak, melindungi dan memberdayakan. Anda seolah mau menyamakan tanah Papua dan manusia Papua dengan segala kompleksitas persoalannya dengan kondisi di Jawa. Anda mau agar apa yang anda dulu lihat, jalani dan dapatkan di Jawa diaplikasikan buta-buta dan mentah-mentah di Papua, tanpa sedikit pun melihat perbedaan pokok antara Jawa dan Papua yang ada dalam segala hal.

Pernahkah bapak baca buku Kordinator GMKP-OAP dan menyadari bahwa latar keberadaan dan berdirinya FK Uncen di Papua itu untuk mendidik, membina dan menghasilkan dokter-dokter asli Papua agar mereka kelak kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk melayani masyarakatnya sendiri dengan pendekatan, cara, gaya dan budayanya masing-masing? Pernahkah bapak berdiskusi dengan para pendiri dan penggagas berdirinya FK Uncen, misalnya Ibu Paulina Watopa dll untuk menanyakan tujuan dasar berdirinya FK Uncen ? Mungkin karena anda tidak pernah membuka diri dan mau memahami, maka anda jalan dengan kebuntutan berpikir karena selalu sibuk dengan urusan pribadi.

Bapak harus sadar bahwa apalah artinya suatu akreditasi yang tinggi, tetapi dalam fakta di dalamnya hanyalah penuh ambigu dan ketidakjelasan. Apalah maknanya akreditasi sementara yang selalu diutamakan, dilindungi dan diberdayakan adalah kaum dominan, pendatang yang melenceng dari tujuan dasar hadirnya FK Uncen di tanah Papua tadi. Apalah gunanya kampus FK yang ditambal sulam menjadi cantik luarnya, sementara realitasnya kampus itu menjadi sarang satu dua suku orang Papua yang diatur dan dikendalikan oleh kaum dominan? Bukankah itu berarti bapak tidak ada bedanya dengan robot dan hanya menang “cashing” dan nama baik, tetapi dalam hal mewujudkan cita-cita hadirnya FK gagal total. Kalau berani, kami minta bapak publikasikan berapa jumlah orang Asli Papua selama 5 tahun kepemimpinan Bapak yang sudah bapak terima, wisudakan, dan lantik jadi dokter. Dan buktikan kepada seluruh orang Papua bahwa bapak berhasil dan tidak gagal melaksanakan amanat kehadiran FK secara historis di tanah Papua.

Bapak Dekan yang terhormat, di dalam tulisan ini juga kami akan sampaikan kekecewaan seorang mahasiswa FK yang berinisial DW. Yang selama ini telah sangat membantu dan menolong kehidupan keluarga bapak. Bapak lupakah bahwa mahasiswa ini selama ini sudah bekerja membersihkan halaman rumah Ibu anda selama bertahun-tahun, memperbaiki pipa air dan semua pekerjaan yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang mahasiswa FK. Bapak sudah semena-mena, memperalat dan memperlakukan dia bak pembantu anda. Tapi apa yang bapak balas dan buat bagi mahasiswa yang juga adalah anak bapak ini? Bapak tidak peduli dan bahkan membiarkan dia sendiri susah payah dihambat sana sini dan dilempar sana-sini secara sengaja bahkan diancam oleh dosen-dosen non Papua untuk dikeluarkan dari FK. Padahal Dia adalah mahasiswa angkatan tua sudah lama kuliah di FK sejak tahun 2011 (10 tahun) belum lagi akan menjalani Koass (Minimal 2 tahun) di Rumah sakit. Ironisnya dia sudah masuk di dalam daftar 128 mahasiswa FK yang akan di DO. Dimana hati bapak, dimana nurani anda?

Bapak dan jajaran harus ingat bahwa pergerakan anda dan jajaran hari ini terhadap mahasiswa yang sedang demo untuk menghalau aksi mereka tidak akan mematikan upaya kami untuk mundur sejengkal pun. Kami akan maju karena kami telah menyimpulkan bahwa anda tidak cocok dan lagi tidak pantas jadi seorang dekan. Seorang dosen, guru dan dekan yang baik, tidak akan tegah membiarkan anak didiknya, tidak selesai. Bahkan ia malu jika anaknya gagal berkali-kali dan tidak akan tegah mengeluarkannya begitu seperti binatang. Dan jika lanjut, dalam pendidikan kedokteran tidak pernah diberikan pengecualian-pengecualian hanya sampai sarjana dan seterusnya. Untuk mengambil S2 dan atau kerja dibagian lain. Sementara faktanya Papua butuh banyak dokter. Dan tidak pernah juga melakukan ancaman licik untuk mencegah terbukanya tabir dan kedok permainan kotor pimpinan FK Uncen.

Bapak Dekan dan jajaran, terlalu banyak rasa kekecewaan mahasiswa asli Papua di FK Uncen yang kalau ditulis satu persatu akan mengesankan, anda tidak memiliki empati sebagaimana yang anda tunjukkan kepada Pasien di rumah sakit terhadap mahasiswa asli Papua;calon-calon dokter asli Papua di FK Uncen. Padahal seorang dokter yang baik, ia akan mampu menampilkan sisi dan rasa kemanusiaannya tanpa dibatasi dan dipisahkan oleh status pasien dan bukan pasien. Melainkan juga karena empati atas kemanusiaan selalu melampaui sekat ras, golongan, suku dan agama. Tetapi dalam kenyataan di FK Uncen hari ini sudah jelas bahwa sebagai pimpinan, dokter dan guru anda sudah gagal dalam menunjukkan teladan bagi mahasiswa, anak-anak anda.

Satu hal yang hampir kami lupa adalah sudah sejak lama pemerintah pusat melalui instansi teknis tertentu, selalu memberikan kebijakan khusus afirmatif dan protektif kepada orang asli Papua dalam segala bidang. Dengan catatan tidak minta merdeka. Misalnya dalam penerimaan siswa dan mahasiswa baru untuk kuliah ke luar Papua bahkan ke luar negeri. Mereka biasanya melakukan perekrutan rutinan setiap tahunnya. Dari kebijakan itu, tidak ada sama sekali yang pulang karena dikeluarkan, atau di DO kan. Mereka justeru banyak yang berhasil dan pulang setelah menyelesaikan studinya dengan baik dan tepat waktu. Kalau bapak tidak tahu, biasiswa ADIK dan ADEM serta kebijakan khusus lainnya adalah sebagai contoh. Dari sini sebenarnya jelas bahwa anak-anak Papua bukan tidak mampu tetapi tidak diberi kesempatan. Seperti apa yang pernah diucapkan oleh Prof. Yohanes Surya, P.hD direktur Surya Institut yang sudah pernah menggodok para ilmuwan Papua sebagai contoh, George Saa dkk. Lantas, apa yang menyebabkan bapak rasa bahwa anak-anak asli Papua tidak mampu dan harus dikeluarkan, sementara fakta di lapangan terjadi praktek-praktek diskriminasi rasialisme dst. Bapak dan jajaran mesti sadar bahwa apabila dalam proses belajar mengajar, banyak mahasiswa anda tidak lulus, maka anda sebagai pengajar sebenarnya gagal. Anda yang mestinya berinovasi dan merasa bersalah lalu mencari cara, trik dan strategi mengajar yang baru. Bukan menyalahkan mahasiswa sebagai orang bodoh, tidak layak jadi dokter, dan segala macam stigma dan omong kosong besar kalian.

Oleh sebab itu, diakhir tulisan ini setelah mengalami, melihat, merasakan, dan mendengar semua perlakuan, sikap dan tutur kata dari bapak dan jajaran Dekanat selama kami menjalani studi di FK Uncen, maka kami atas nama moyang, leluhur dan para penggagas yang dengan niat tulus menghadirkan FK Uncen untuk menolong orang Papua; dan yang oleh karena perjuangan kami anda menjadi dekan, tetapi anda gagal selama satu periode menjabat dekan, maka kami menuntut kepada bapak dan jajaran AGAR SEGERA MENGUNDURKAN DIRI DARI JABATAN DEKAN FK UNCEN secara sukarela. Karena anda telah gagal dan lalai memihak, melindungi dan memberdayakan orang asli Papua untuk menjadi dokter di atas negerinya sendiri.

Sebab sangatlah mustahil bahwa anak-anak asli Papua bisa diterima secara banyak dan diperlakukan istimewa di luar tanah Papua. Papua adalah tanah, tempat, rumah dan hak asali kami. FK Uncen hadir untuk kami, bukan siapa-siapa. Karena semua sudah diberikan dan dibangun sesuai dengan daerah, wilayah, sukunya masing-masing. Kami mendesak agar saudara meninggalkan jabatan dengan dengan sukacita untuk kembali ke Rumah Sakit demi menyelamatkan dan melayani para pasien yang lebih membutuhkan sentuhan pelayanan yang terfokus. Biarkan anak-anak Papua, agar mereka setidaknya dapat menjadi dokter seperti anda dan semua jajaran di FK Uncen yang bergelar Dokter dan spesialis. Karena jika anda keluarkan mereka, maka apa yang akan menjadi modal mereka dalam menjalani kehidupan mereka. Sementara anda adalah dokter dan spesialis yang bisa kerja dan berkarya di manapun dan hidup di manapun. Apa yang akan dilakukan oleh orang tua mereka, jika anda mengeluarkan mereka? Apa sikap dan pandangan keluarga mereka, jemaat mereka, sanak-saudara mereka? Dimana mereka akan bersembunyi? Atau apakah anda mau agar mereka mati karena stres, depresi dan akhirnya bunuh diri seperti yang menimpa 2 orang mahasiswa FK sebelumnya?

Demikian surat ini, apabila tuntutan utama surat ini tidak digubris, maka dengan tegas kami akan menutup FK Uncen untuk selama-lamanya karena kunci pintu utama FK Uncen sudah ada pada kami sejak kemarin. “Bagi kami berjuang sampai mati adalah solusi bagi masa depan dan cita—cita luhur kami untuk menjadi dokter. Apalah gunanya hidup sebagai orang yang gagal bukan karena tidak mampu tetapi digagalkan secara sengaja oleh orang-orang yang kata-kata dan cover bahasanya dihinggapi untaian ayat-ayat surga tetapi tindakannya seperti lusifer ?”

Surat ini di tulis di Mess FK Uncen Abepura yang bapak sebagai dekan FK tidak pernah mampir satu kalipun untuk menanyakan kabar, kondisi dan kehidupan kami anak-anak Papua sejak awal anda diangkat dan dilantik sebagai dekan FK yang terhormat; di tulis di Mess FK yang anda lupakan ketika ditanyai oleh seorang mama warga jemaat GKI Isne Kijne pada anda tentang apakah bapak sudah kasih bantuan BAMA untuk anak-anak di Mess FK atau belum tetapi bapak diam; dan dari tempat dimana kami hidup berdampingan dengan orang-orang asli (tuan tanah) yang anda pecat dari FK secara sepihak dari Klining Servis dan tidak pernah menjawab dan menerima pesan dan telpon mereka.

Jayapura, 08 Agustus 2020

Dari Kami Yang Diancam dan Ditindas di Negeri Sendiri Oleh Orang Kami Sendiri :

Koalisi Mahasiswa Uncen, 128 Mahasiswa Yang diancam DO dari FK UNCEN , BEM FK, DPM FK, GMKP-OAP

Facebook Comments