WestPapuaNews.Org melaporkan langsung ke WPNews bahwa apart kriminal bersenjata kolonial TNI/POLRI melakukan kekerasan, penindasan, sekaligus telah memutuskan Internet online sengaja dimatikan agar anggota kriminal bersenjata kolonial TNI/POLRI membantai, membunuh, dan memperkosa anak-anak perempuan dibawah umur di kabupaten Puncak sekaligus dunia luar, national serta rakyat Papua tidak boleh merekam kejahatan bangsa binatang penjajah kolonial Indonesia di Papua. Bahkan anggota kriminal bersenjata TNI/POLRI membumihanguskan seluruh perumahan dan perkebunan masyarakat orang asli Papua yang berada di Kecamatan Kembru, Kabupaten Puncak. Orang asli Papua sangat resah sekali dengan kehadiran aparat kriminal bersenjata TNI/POLRI yang selalu tidak memberikan rasa aman bagi orang asli Papua selama ini. Justru setiap hari menakut-nakuti rakyat Papua, anak-anak kecil, dan orang-orang tua. Kebanyakan telah mengungsi dari amukan TNI/POLRI.
WestPapuaNews.Org Kami mendapat laporan dari informasi langsung dari lokasi kejadian dan beberapa orang pendatang yang mempunyai simpati dengan perjuangan Papua melawan penjajahan dan kolonialisme bangsa binatang NRKI bahwa aparat militer kolonial Indonesia telah melakukan operasi militer secara besar-besaran. Penyerangan dan pembumihangusan perumahan kampung-kampung milik orang asli Papua, bahkan anggota kriminal bersenjata TNI/POLRI juga membakar sekolah-sekolah, Rumah Sakit, Gereja-gereja. Penyerangan yang membabi buta ini dilakukan melalui darat dan udara sejak 31 Januari 2026 hingga sekarang ini operasi militer secara besar-besaran masih dan sedang berlangsung. TNI AU menggunakan helikopter dan pesawat tempur telah dan sedang menjatuhkan bom di kampung-kampung di wilayah Kecamatan Kembru, Kabupaten Puncak.
WestPapuaNews.Org Serangan Bom yang terjadi pada 31 Januari lalu tepat berada di Distrik Kembru. Indonesian terrorist president Prabowo Subianto memberikan perintah langsung bahwa pilot tempur dan helikopter untuk meluncurkan bom-boms di tempat wilayah-wilayah lokasi pengungsian orang asli Papua. Bupati Puncak telah memberikan laporan ke Menteri Dalam Negeri bahwa wilayah kecamatan Kembru adalah tempat pengungsian bagi masyarakat sipil yang terkena dampak konflik bersenjata antara para pejuang kemerdekaan bangsa Papua Barat TPN PB dengan anggota kriminal kolonial bersenjata (TNI/POLRI) pemerintah bangsa binatang kolonial Indonesia dari kecamatan Pogoma dan distrik lainnya, wilayah Kembru adalah akses utama bagi para pengungsi dari Pogoma menuju Bina dan Sinak untuk membeli kebutuhan makan.
WestPapuaNews.Org Kampung Nilome, Kembru, Makuma, Tenoti, Kumikomo, Yigunggi, Gelegi, Aguit, dan Belaba pada tanggal 31 Januari lalu telah di bumi hanguskan karena anggota kriminal bersenjata TNI/POLRI tidak mampu melawan para pejuang kemerdekaan Papua TPNPB yang gagah berani membuat TNI/POLRI kalang kabur dan ketakutan sehingga kenganasan anggota kriminal bersenjata kolonial TNI/POLRI melampiaskan dengan melakukan penyerangan dan pembakaran gedung-gedung Gereja, Puskesmas, sekolah-sekolah serta merampok seluruh ternak babi orang asli Papua di beberapa kecamatan tersebut akibat kebrutalan anggota kriminal bersenjata penjajah NKRI mengakibatkan terjadinya pengungsian yang secara besar-besaran di hari serta agar dunia tidak boleh mengetahui kejadian ini Pemerintah kolonial Indonesia juga telah memutuskan jaringan internet sejak hari Sabtu pagi mulai dari jam 07.00 hingga Minggu, 1 Februari 2026 sehingga orang asli Papua dan warga sipil pendatang juga tidak dapat melaporkan kejadian tersebut dengan tujuan aparat kriminal bersenjata dapat membunuh, membatai, dan memperkosa ibu-ibu dan anak-anak gadis Papua dibawah umur lima tahun tidak boleh terbongkar dalam serangkaian serangan tersebut.

WestPapuaNews.Org Sementara itu laporan dari Kabupaten Puncak Jaya pada hari ini bahwa aparat militer indonesia dari Pos Timobut, Kabupaten Puncak telah melakukan operasi berskala besar di seluruh wilayah Kabupaten Puncak sehingga masyarakat sipil banyak mengungsi ke Distrik Sinak dan Distrik Yambi, Kabupaten Puncak Jaya untuk mencari perlindungan sejak 22 Januari lalu hingga pada hari ini.
WestPapuaNews.Org Operasi militer yang terjadi di Distrik Kembru pada 22 Januari hingga sekarang mengakibatkan masyarakat sipil dari Kampung Kembru, Tenoti, Nilume dan Makuma mengungsi ke Distrik Yambi dan Sinak menyusul warga yang melarikan diri akibat operasi militer setelah aparat menjatuhkan bom melalui drone di pemukiman warga sipil dan tempat pengungsian di Kemburu.
Sementara warga sipil dari Kampung Abuit, Belaba, Molu dan Aguit melarikan diri ke hutan belantara.

WestPapuaNews.Org Informasi lebih lanjut bahwa warga sipil yang mengungsi akibat operasi militer di Kabupaten Puncak terpaksa meninggalkan banyak orang sakit di wilayah pengungsian di Kemburu dan melarikan diri ke hutan-hutan dan Kabupaten Puncak Jaya. Sementara bayi dan anak-anak terpaksa digendong sambil berjalan kaki puluhan kilometer dari dalam hutan untuk mencari perlindungan setelah wilayah mereka diserbu oleh aparat militer indonesia. Para lansia dan ibu-ibu hamil pun melarikan diri bersama warga lainnya sambil membawa alat-alat dapur untuk memasak di tengah hutan saat beristirahat.
Mohon pantauan semua media alternatif dan mainstream. Perjuangan di Papua Barat terus menyala di hutan-hutan, gunung-gunung hingga pesisir. Tanah air milik kita.



