Warning: rename(/homepages/0/d658124315/htdocs/app658138783/wp-statistics.log,/homepages/0/d658124315/htdocs/app658138783/wp-content/uploads/wp-statistics/debug.log): Permission denied in /homepages/0/d658124315/htdocs/app658138783/wp-content/plugins/wp-statistics/includes/class-wp-statistics.php on line 255
Pesan untuk Generasi Penerus Bangsa West Papua – Westpapuanews.Org

Pesan untuk Generasi Penerus Bangsa West Papua

Mahasiswa dan Pelajar UP4B atau Afirmasi, Jangan Berbangga dengan Hadirnya Program UP4B/Afirmasi Dikti bagi Papua dan Papua Barat

“MENGAPA KITA HARUS TUNDUK DAN PATUH PADA NEGARA KOLONIAL INDONESIA, YANG BERWATAK MILITERISTIK, KRIMINALITAS, DISKRIMINATIF, BARBAR, RASISME, KEJAM, JAHAT, KETIDAKBENARAN, KETIDAKADILAN, KETIDAKMANUSIAAN, DAN KETIDAKJUJURAN DI BAWAH SISTEM KOLONIAL MODERN INDONESIA DENGAN STIGMA ATAU MITOS-MITOS MONYET PAPUA. JANGAN MELAWAN NEGARA KARENA KALIAN (MAHASISWA PAPUA) DIBIAYAI OLEH NEGARA INDONESIA DAN PAPUA SEDANG DIBANGUN OLEH PENGUASA KOLONIAL INDONESIA DI BAWAH PIMPINAN JOKO WIDODO?

HANYA KARENA TAKUT BICARA, HANYA KARENA TAKUT LAWAN, HANYA KARENA TAKUT DICAP SEBAGAI SEPARATISME PAPUA, HANYA KARENA KEHILANGAN KEKUASAAN, HANYA KARENA TAKUT DITANGKAP DAN DIPENJARAKAN HANYA KARENA DIKELUAR DARI KAMPUS ATAU DIPUTUSKAN DARI AFIRMASI.”

“Kita lawan kita mati. Kita tidak lawan kita mati. Kita bicara kita ditangkap. Kita tidak bicara kita ditangkap. Kita mencari zona nyaman kita dicap sebagai monyet, golorila, anjing dan babi sekalipun. Kita lawan kita dicap sebagai seperatisme, pemberontak, melawan negara, teroris, monyet, tikus hutan dan sampah sekalipun. Kita tidak lawan kita dikejar dipantau dengan stigma atau mitos-mitos monyet, anjing, gorila, babi, hitam dan kamu jangan buat begini dan begitu kami ini seakan-akan binatang peliharaan penguasa Kolonial Indonesia yang harus diurus dengan intimidasi dan teror mental dengan sewenang-wenang.

Mari, kita semua kamu anak adem kah, afirmasi atau beasiswakah, anak gubernurkah, anak bupatikah, anak DPR kah, anak pegawaikah, anak TPNPB-OPM kah, anak walikota kah, anak pendeta kah, anak kepala distrik kah, mahasiswa kah, ko gunung kah, ko pantai kah, ko buruh kah, ko pegawai kah, ko dosen kah. Anda selama masih sebagai orang Papua, Anda adalah monyet, anjing, babi berdansa di dalam penjara Kolonial Indonesia.”

“Mari, kita semua sadar dan bangkit dan HARUS lawan, hentikan dan hilangkan mitos atau stigma: separatis, makar, monyet, golorila, anjing, babi dengan mitos-mitos jangan melawan negara karena kalian (Mahasiswa Papua) dibiayai oleh Negara Indonesia. diproduksi dan dipelihara serta digunakan penguasa asing Negara Indonesia, menteri pendidikan dan kebudayaan, dosen-dosen, guru-guru dan TNI-Polri sebagai kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM serta RASISME yang merendahkan dan menghina harkat dan martabat kemanusiaan kami mahasiswa Papua dan rakyat orang asli Papua bahkan Negara Republik Indonesia melindungi dan memelihara rasisme dan diskriminasi di mimbar-mimbar akademisi atau dunia lembaga pendidikan.”

Penulis: Yordan Nyamuk K.*

“Penguasa Negara Kolonial Indonesia, TNI-Polri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dosen-dosen dan guru-guru HARUS berhenti membangun Pemerintahan Neraka dan Kerajaan Iblis di atas wajah tulang-belulang dan roh-roh leluhur kami Bangsa West papua dengan mitos-mitos yang rasis.”

Dan penguasa Kolonial Indonesia, TNI-Polri, para dosen-dosen dan guru-guru Indonesia hentikan stigma-stigma atau mitos-mitos jangan melawan negara karena kalian (MP) dibiayai oleh Negara Indonesia dan hentikan mendidik atau pengajar ilmu yang diskriminatif, nilai budaya yang diskriminatif dan bahasa yang diskriminatif dengan orang Papua primitif, bodoh, tidak mampu, ketinggalan yang diajarkan di atas mimbar-mimbar akademisi atau dunia lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. 

Kawan-kawan mahasiswa papua yang dapat bantuan negara maupun tidak dapat bantuan negara yang dinamakan afirmasi atau beasiswa jangan pernah takut untuk membelah harkat dan martabat Orang Asli Papua (OAP) yang direndahkan, dihina, dicaki maki dengan stigma atau mitos-mitos monyet, anjing, tikus hutan, bodoh, primitif, tidak mampu dan seperatis, kalian jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. 

Kawan- kawan harus ingat perkataan Ibu Shirin Ebadi–wanita Iran peraih nobel perdamaian: “Ketakutan kami untuk mengatakan kebenaranlah yang menyebabkan selama bertahun-tahun memberi kesempatan dan kekuatan bagi para penindas yang menindas kami”.

“Penguasa Kolonial Indonesia, TNI-Polri, para dosen-dosen dan guru-guru di seluruh Indonesia. Hentikan stigma atau mitos-mitos: bodoh, primitif, tidak mampu, monyet, hitam dan kalian dibiayai oleh negara Indonesia, yang diajarkan di kampus-kampus maupun di sekolah-sekolah”.

Penguasa Kolonial Indonesia dan TNI-Polri harus mengerti apa kata Mayon Sutrisno: “Bagaimanapun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, ia akan tumbuh berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidupnya”.

Mari, kita semua sadar dan bangkit dan HARUS lawan, hentikan dan hilangkan mitos atau stigma: separatis, makar, monyet, golorila, anjing, babi dengan mitos-mitos jangan melawan negara karena kalian (Mahasiswa Papua) dibiayai oleh Negara Indonesia. Hanya orang penyakut dan bodoh saja yang tunduk dan patuh pada Negara Kolonial Indonesia yang berwatak milisteristik, kriminalitas, barbar, ketidakbenaran, ketidakadilan dan ketidakjujuran dengan stigma atau mitos-mitos: monyet, separatis, anjing dan kalian jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. 

“Mari, kita semua sadar bangkit dan melawan diskriminasi dan rasisme dengan stigma atau mitos-mitos monyet, anjing, primitif, bodoh dan jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. Yang diproduksi dan dipelihara oleh penguasa negara Kolonial Indonesia dan para dosen-dosen serta guru-guru yang berwatak rasis.

Mari, kita semua sadar bangkit dan melawan diskriminasi dan rasisme dengan stigma atau mitos-mitos monyet, primitif, bodoh dan jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia, dan mahasiswa-mahasiswi papua HARUS, sadar dan  bangkit dari kebutaan, ketulian, kebisuan, zona kenyamanan, bangunlah dari tidur lenyap dan kita sama-sama lawan stigma atau mitos-mitos yang diproduksi oleh penguasa Kolonial Indonesia dengan primitif bodoh dan jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. 

Mari, kita semua sadar bangkit dan mengenal diri Anda, pelajari budaya Anda, pelajari sejarah Anda Bangsa West Papua, pelajari akar persoalan Nangsa West Papua dan pelajari juga kenapa HARUS lahir UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua, pelajari juga kenapa lahir Inpres No. 66 Tahun 2011 tentang UP4B atau afirmasi untuk Papua dan Papua Barat? 

Saya sampaikan kepada mahasiswa afirmasi atau UP4B yang berbangga dengan hadirnya afirmasi atau UP4B segera Anda semua sadar dan pelajari akar persoalan status politik Bangsa West Papua. Otsus lahir karena adanya Rakyat dan Bangsa West Papua menuntut dan meminta memisahkan diri dari negara Republik Indonesia. 

Makanya Pemerintah Kolonial Indonesia memberikan Otsus yang diibaratkan seperti racun dan mesin pembunuh Rakyat dan Bangsa West Papua. Afirmasi atau UP4B lahir tahun 2011 karena penguasa Kolonial Indonesia gagal dalam penerapan Otonomi Khusus di atas tanah West Papua sehingga penguasa Kolonial Indonesia tergesa-gesa dan akal-akalan buatlah UP4B nasi bungkus ini. Penguasa Kolonial Indonesia dan DPR bersama pengawalan TNI-Polri membuat peraturan demi peraturan dan undang-undang demi undang-undang di untuk diterapkan di tanah Bangsa West Papua adalah bentuk pengalihan atau mengaburkan atau menghilangkan status politik Papua atau kemerdekaan Bangsa West Papua itu sendiri. 

Para mahasiswa afirmasi atau UP4B yang takut dengan Negara Kolonial  Indonesia, takut dengan penguasa Kolonial Indonesia, takut kehilangan afirmasi, takut kehilangan keuntungan dari Otsus yang menjadi mesin pembunuh bagi Rakyat dan Bangsa West Papua. Anda HARUS semua sadar dan bangkit dari kebutaan, ketakutan, kebisuan, ketulian dan kenyamanan dan lihat dan demgarkan teriakan pengungsi Nduga, Intan Jaya, dan Puncak Jaya. Mahasiswa abal-abalan dan mahasiswa Papua dungu yang mendukung Otsus plus jilid ll itu segera hentikan dan ambil bagian untuk merebut kemerdekaan Bangsa West Papua.

Para mahasiswa afirmasi atau UP4B Anda jangan berbangga dengan afirmasi atau UP4B dan Otsus dan Amda berterima kasih kepada penguasa Kolonial Indonesia. Saya kutuk para mahasiswa Papua yang berterima kasih kepada penguasa Kolonial Indonesia yang berwatak RASIS dan hentikan juga sengilintir mahasiswa papua yang  mendukung Otsus plus jilid ll. 

Dulu, tahun 1996-1998 orangtua (TPNPB-OPM) Ndugama sedang berperang melawan penguasa Kolonial Indonesia dan rakyat Nduga mengungsi di hutan-hutan. Sedangkan pemerintah elite politik Papua mereka bahas atau urus UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua dan elite politik Papua mereka tidak mengurus atau memperhatikan nasib rakyat Nduga waktu itu.

Dan sekarang, Nduga, Intan Jaya, dan Puncak Jaya sedang perang atau  melawan penindasan, perbudakan, diskriminasi, eksploitasi, penangkapan, penculikan, perampokan dan pembunuhan yang dilakukan oleh penguasa Kolonial Indonesia melalui TNI-Polri. Sementara penguasa Kolonial Indonesia, elite politik Papua, mahasiswa abal-abal mendukung Otsus plus jilid ll yang telah gagal, mati dan bernanah ini sangat tidak manusiawi dan tidak masuk akal.

“Sebab, Rakyat dan Bangsa West Papua tidak pernah minta Otsus, Pembangunan, Infrastruktur, UP4B atau Afirmasi dan Uang. Akan tetapi, Rakyat dan Bangsa West Papua–dari dulu sampai sekarang–mereka meminta adalah kemerdekaan Bangsa West Papua atau mengembalikan Hak Kedaulatan Bangsa West Papua yang pernah proklamasikan pada 1 Desember tahun 1961–itu jelas.”

Penguasa Kolonial Indonesia, para dosen-dosen dan guru-guru dan TNI-Polri hentikan dan hilangkan stigma atau mitos-mitos: monyet, primitif, bodoh dan tidak mampu karena kami Bangsa West papua bukan bangsa monyet, primitif, bodoh dan tidak mampu. Melainkan kami Rakyat dan Bangsa West Papua adalah bangsa beradap yang independen, mandiri yang diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan gambar dan rupanya sendiri.

Penguasa Kolonial Indonesia, dosen-dosen dan guru-guru hentikan dan hilangkan stigma atau mitos-mitos: monyet, primitif, bodoh, ketinggalan dan tidak mampu karena kami Rakyat dan Bangsa West Papua sudah memiliki akal, budi dan ma’rifat itu Tuhan sudah memberikan kepada kami sebelum penguasa Kolonial Indonesia menduduki dan mencaplok tanah West Papua (aneksasi 1 Mei 1963).

Penguasa Kolonial Indonesia dan TNI-Polri HARUS tahu bahwa orang Papua bukan monyet, primitif, bodoh dan tidak mampu. Akan tetapi, kami Rakyat dan Bangsa West Papua adalah manusia ciptaan Tuhan yang sempurna. Penguasa Kolonial Indonesia dan TNI-Polri hentikan dan hilangkan stigma atau mitos-mitos monyet, primitif dan bodoh karena honai bukan ketinggalan, anak pana bukan ketinggalan, koteka bukan ketinggalan dan hitam kulit dan kriting rambut bukan ketinggalan. Akan tetapi, itulah jati diri dan identitas Rakyat dan Bangsa West Papua yang sebenarnya dari dulu sampai sekarang tetap sama.

Mari, kita semua sadar dan bangkit dan HARUS lawan, karena harga diri dan martabat manusia lebih tinggi dan lebih berharga di mata Tuhan darilada harga Negara Kolonial Indonesia, uang Negara Kolonial Indonesia, infrastruktur, afirmasi atau UP4B dan Otsus mesin pembunuh Rakyat dan Bangsa West Papua.

Penguasa Kolonial Indonesia, TNI-Polri Menteri Pendidikan, para dosen-dosen, guru-guru dan kawan-kawan mahasiswa afirmasi atau UP4B Papua dan Papua Barat, ingat dan perlu mengetahui bahwa uang afirmasi atau uang dana Otsus adalah uang Rakyat dan Bangsa West Papua, bukan uang Negara Republik Indonesia–itu jelas. Dan afirmasi yang diskriminatif ini, penguasa Kolonial Indonesia dan TNI-Polri, para dosen-dosen dan guru-guru harus perjelas apakah afirmasi ini bantuan negara atau beasiswa?

Penguasa Kolonial Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, TNI-Polri, para dosen-dosen dan guru-guru di seluruh Indonesia. Stigma-stima atau mitos-mitos mengatakan atau mengujarkan ‘kalian dibiayai oleh negara Indonesia jadi, kalian jangan melawan Negara Indonesia’. Saya mengingatkan kepada penguasa Kolonial Indonesia: hentikan stigma atau mitos-mitos yang diskriminatif dan rasis dengan jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. Bagaimana semestinya karena berapa alasan yaitu sebagai berikut:

Pertama, UUD 1945 Pasal 31 ayat (1): “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Dan ayat (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Kalian bisa baca juga landasan hukum UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kedua, apapun yang Pemerintah Kolonial Indonesia berikan kepada Rakyat dan Bangsa West Papua adalah Pemerintah Kolonial Indonesia HARUS kembalikan apa yang kalian ambil sebanyak-banyaknya dari tanah West Papua. Seperti, emas, perak, batubara, minyak bumi dan lainnya, penguasa Kolonial Indonesia perampok, pencuri dan mengambil harta kekayaan milik Rakyat dan Bangsa West Papua.

Ketiga, nyawa dan darah rakyat dan Bangsa West Papua tidak bisa diukur dengan uang, dana Otsus, pembangunan dan afirmasi atau UP4B dan lainnya.

Keempat, namanya afirmasi tapi penerapannya diskriminatif dan penipuan besar terhadap Rakyat dan Bangsa West Papua. Mengapa afirmasi diskriminatif? Karena (a) menerima yang afirmasi atau beasiswa bukan orang asli Papua saja tapi kebanyakan adalah kawan-kawan non-Papua (Indonesia)  yang menetap di Papu, (b) Pemerintah Kolonial Ondonesia tidak menyediakan fasilitas umum yang layak bagi anak-anak afirmasi seperti, asrama, alat transportasi, kesehatan dan lainnya, (c) penguasa Kolonial Indonesia tidak memperbolehkan atau menyediakan jurusan penerbangan dan kedokteran bagi anak-anak afirmasi atau UP4B Papua dan Papua anarat. Apakah model seperti ini, yang bisa dikatakan afirmasi atau beasiswa? 
Kelima, sebelum Omdonesia merdeka juga, Pemerintah Belanda membiayai orang-orang Indonesiax salah satunya adalah Bung Hatta, tapi Jatta membicarakan kemerdekaan anangsa Indonesia, apakah Hatta tidak melawan Negara Belanda?

“Kewajiban dan tanggung jawab penguasa Negara Kolonial Indonesia adalah mengembalikan Hak Ledaulatan kepada Rakyat dan Bangsa West Papua dan membiayai setiap warga Negara Indonesia dan termasuk mahasiswa Papua dan dengan tidak ada balas budi dan lainnya.”

Hak mahasiswa papua adalah menerima ilmu yang demokratis dan ilmiah dan  tidak ada ilmu yang diskriminatif dengan stigma atau mitos-mitos primitif, bodoh, monyet, anjing, separatis dan jangan melawan negara. 

“Kewajiban mahasiswa Papua adalah membicarakan kemerdekaan Bangsa West Papua dan hak mahasiswa Papua adalah merebut kemerdekaan Bangsa West Papua yang pernah diproklamasikan pada 1 Desember tahun 1961–itu jelas.”

Kewajiban dan tanggung jawab dosen dan guru adalah mengajar dan mendidik para mahasiswa atau pelajar dengan sungguh-sungguh karena kalian sudah dibiayai atau dibayar oleh mahasiswa atau pelajar.  

Itu sudah jelas. jadi, afirmasi atau UP4B, pembangunan, Otsus dan uang tidak ada hubungannya dengan kemerdekaan Bangsa West Papua karena setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri itu sudah diatur oleh hukum Konstitusi Internasional Pasal 73e dan hukum Konstitusi Indonesia juga menjamin untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa yang sedang dijajah.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusian dan peri keadilan–Alinea Pertama UUD 1945.”

Kawan-kawan bisa baca dengan seksama buku afirmasi halaman 9 Bab 1.PEDOMAN OPERASIONAL BAKU Program Afirmasi Pendidikan Tinggi tahun 2014. Yang dimana menyatakan bahwa:

Dalam status khusus mahasiswa dibimbing agar dapat melewati IPK 2.00 agar dapat melanjutkan ke semester berikutnya. Setelah mahasiswa registrasi pada PTN hendaknya ada proses pembinaan dan pembimbingan terutama berhubungan dengan motivasi, kedisiplinan dan juga social hour activity, misalnya dengan melibatkan organisasi mahasiswa daerah atau yang sejenisnya. Masa inkubasi dalam status khusus dibuat dengan mempertimbangkan kualitas calon serta kemudahan program tersebut dilaksanakan pada masing-masing universitas. Selanjutnya upaya untuk menekan angka kegagalan dan meningkatkan keberhasilan dapat dilakukan secara khusus baik dengan melibatkan dosen, asisten dosen, mahasiswa senior maupun tutor sebaya. Akan sangat ideal jika PTN dapat menyediakan asrama yang memungkinkan bergabung dengan mahasiswa lain sehingga proses pembimbingan, sosialisasi dan akulturasi berjalan dengan baik.

Penguasa Kolonial Indonesia, para menteri pendidikan dan TNI-Polri menindas dan membohongi rakyat dan Bangsa West Papua dengan janji-janji  kepalsuan, kehampaan dan kebiadaban atas rakyat pribumi West Papua dari presiden kepresiden dan dari tahun ke tahun.

Janji-janji penguasa kolonial indonesia  dan kepalsuan terhadap Rakyat dan  Bangsa West alapua antara lain yaitu, sebagai berikut:

a. Tahun 1969, Menteri Dalam Megeri Kndonesia menyatakan bahwa: kami, Pemerintah Indonesia berkeinginan dan mampu melindungi untuk kesejahteraan rakyat Irian Narat; oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, tetapi tinggal dengan Republik Indonesia, Merauke sebagai kemenangan awal.     
b. UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus papua adalah untuk melindungi hak-hak Orang Asli Papua.t Tapi nyatanya kepalsuan, penipuan dan alat mesin pembunuh Rakyat dan Bangsa West Papua.

c. Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2011 tentang Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat(UP4B) yang mengutamakan adalah kesehatan dan pendidikan akan tetapi nyatanya  kepalsuan belaka.

d. Joko Widodo juga pernah janji-janji palsu kepada Rakyat dan Bangsa West Papua pada tanggal 25 Mei 2015. Dimana Jokowi naik ke panggung dan berkata kepada Rakyat dan Bangsa West Papua bahwa: ‘saya akan tuntaskan pelanggaran HAM berat di Papua. Namun, kenyataannya Joko Widodo menambahkan pelanggaran HAM berat di atas tanah West Papua dengan melalui operasi militer yang terutama Nduga, Intan Jaya, Puncak Jaya dan seluruh teritorial WEST PAPUA. 

e. Penguasa Kolonial Indonesia, sebelum aneksasi Papua ke dalam Indonesia ada 2 perjanjian yaitu; (1) New York Agreement 15 September 1962 dan (2).perjanjian roma 30 september 1962. Dua perjanjian tersebut indonesia berkuasa tanah papua selama 25 tahun setelah itu indonesia akan melepaskan tanah papua atau memerdekakan. (Dihitung sejak 1 mei 1963 sampai dengan 1 mei 1988) ini juga janji palsu yang biadap tidak prikemusiaan.sehingga pemerintah amerika serikat membantu indonesia uang sebesar USS 25 juta setiap tahun. 

“Mari, kita semua sadar, bangkit dan melawan stigma atau mitos-mitos diskriminasi dan rasisme yang dilakukan oleh penguasa kolonial indonesia dengan primitif, bodoh dan monyet”.Saya sendiri adalah anak adem afirmasi menegah (SMA). Salah satu SMA Megeri 4 Singaraja Bali. Saya pernah mengalami didiskriminasi, RASISME dengan stigma atau mitos-mitos seperti, monyet, kera, hitam Papua, bojong, anjing dan jangan melawan negara karena kamu itu, dibiayai oleh Negara Indonesia. Dan saya pernah debat dengan salah satu ibu guru yaitu Ibu Heni. Dan Ibu Heni adalah ibu guru sejarah Indonesia dan PKN dan Ibu Heni juga, pernah ungkapkan kepada  saya seperti ini, “primitif, bodoh” jangan bicara Papua Merdeka. Sebab kamu itu, dibiayai oleh negara Indonesia. Dan saya kecewa dengan Ibu Heni sebagai guru PKN itu, adalah dia pernah tuduh saya OPM dengan kata-katain, “anak otak  seperti ini, merugikan uang negara”.

Pak Kreatte adalah guru kesiswaan dia pernah katakan begini “Saya tidak butuh siswa kepala keras seperti kamu” saya anak gubernur saja pernah keluarkan dari sekolah. Waktu itu, saya jawab dengan spontan, saya katakan kepada Pak Keeatte bahwa “bapa boleh bedakan anak gubernur dan anak biasa tapi bapa harus ingat juga bahwa semua manusia di mata Tuhan sama.

Dan kemudian, pihak sekolah juga biasa kerjasama dengan pihak kepolisian sehingga past bulan-bulan Desember mereka (intelijen) biasa datang  ke sekolah untuk periksa identitas, tempat tinggal dan lainnya. Satu, kali saya menanyakan kepada intelijen yang datang ke sekolah untuk ambil video atau foto kami, pertanyaan saya seperti ini: mana surat izin dan bapa-bapa ini  utusan dari siapa?? Lalu mereka menjawab kami utusan dari Polres Buleleng dan kami sudah izin sama kepala sekolah. 

Saya pernah tunjuk diri untuk mencalonkan diri sebagai pengurus osis Ketua Osis SMA Negeri 4 Singaraja-Buleleng-Bali. Tapi Lembina Osis namanya Ibu Jaya katakan bahwa kamu itu, bodoh atau tidak pintar jadi, kamu  tidak usah jadi Pengurus Osis dan saya juga pernah daftar Patroli Keamanan Sekolah (PKS) akan tetapi pihak sekolah tidak terima saya antara 2016-2017. Maka dari itu, saya mengatakan dengan keyakinan saya bahwa penguasa Kolonial Indonesia tidak mampu dan tidak sanggup mendidik mahasiswa dan pelajar Papua.

Anda percaya atau tidak percaya, Anda yakin atau tidak yakin apa yang saya bilang atau saya sampaikan melalui artikel ini, sesuai dengan fakta dan kenyataan di lapangan, saya menulis ini adalah sesuai apa yang saya rasakan, apa yang saya lihat dan apa yang saya alami itulah yang saya tulis.

Saya juga pernah oleh teman-teman (Indonesia) sekolah direndahkan harkat dan martabat saya dengan monyet, hitam Papua, dan bahkan ketika ada tugas kelompok tidak pernah kerjasama dengan saya. Dan juga makanan atau minuman juga tidak bisa makan bersama dengan mereka ini nyata dan fakta, bukan mitos. Tapi semua itu, bagiku kekuatan dan senjata untuk melawan diskriminasi dan rasisme tersebut. Sebab “lebih baik kita hancur, kita ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh dalam perlawanan untuk mempertahankan harga diri dan martabat dan membelah kebenaran daripada kita diam tapi ditindas, dibudak, dan dibunuh sampai kita habis”.  

Ingatlah perkataan Marthen Luther King:

“Jika Anda berjuang untuk keadilan, Anda tidak berjuang sendirian. Tetapi Tuhan berjuang bersama Anda.”

Kawan-kawan, mahasiswa Papua sadar, bangkit dan merapat barisan untuk melawan penguasa Kolonial Indonesia yang berwatak RASISME. Mari, kita semua sadar, bangkit dan melawan penguasa Kolonial Indonesia dengan “CARA DAN GAYA KAMI SENDIRI” untuk merebut kemerdekaan Bangsa West Papua.

“Saya tahu, saya mengerti dan juga saya sadar apa yang saya katakam ini. Karena itu, Anda yakin atau tidak yakin, Anda percaya atau tidak percaya, Anda suka atau tidak suka, Anda senang atau tidak senang, cepat atau lambat penduduk asli Papua ini akan memperoleh KEMERDEKAAN dan berdiri sebagai sebuah negara yang berdaulat.”

Penguasa Kolonial Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, TNI-Polri, dan para dosen-dosen dan guru-guru sedang diskriminasi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua. Dengan mitos-mitos jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. Ini harus hentikan dan HARUS lawan dogma yang tidak berfaedah dan tidak bermanfaat yang diajarkan oleh para dosen-dosen dan guru-guru dengan harga diri dan martabat yang direndahkan, dihinakan, disamakan dengan sejenis binatang. 
Kawan-kawan para mahasiswa afirmasi maupun non-afirmasi mari, kita semua sadar bangkit dan melawan diskriminasi dan rasisme yang dilindungi dan dipelihara oleh penguasa Kolonial Indonesia dan TNI-Polri dan para dosen serta guru-guru berwatak rasis.

Saya juga, sementara menempuh dunia pendidikan afirmasi (adik), sehingga  saya juga melihat bahwa afirmasi ini, hanya penipuan dan pembohongan terhadap mahasiswa Papua. Kenapa saya katakan demikian? Karena sering kali saya ditolak oleh bidang kemahasiswaan dengan alasan mau sholat dan para dosen-dosen lain juga  sangat sulit untuk responsif. Terus bagiamana dengan buku, panduan afirmasi Bab 1 yang mengatakan bahwa:

Selanjutnya upaya untuk menekan angka kegagalan dan meningkatkan keberhasilan dapat dilakukan secara khusus baik dengan melibatkan dosen, asisten dosen, mahasiswa senior maupun tutor sebaya. Akan sangat ideal jika PTN dapat menyediakan asrama yang memungkinkan bergabung dengan mahasiswa lain sehingga proses pembimbingan, sosialisasi dan akulturasi berjalan dengan baik.

Dan belakangan ini, setiap lembaga pendidikan di seluruh Indonesia diambil-alih oleh militer Indonesia bulan Februari (tanggal 19-24-2021) yang lalu, saya jalan-jalan, adik-adik SMA di Bali lalu, mereka bilang kakak, kita didatangi oleh intelijen Indonesia dan TNI-Polri lalu mereka ambil video kami dan mereka ajarkan kami ‘NKRI Harga Mati’, kami cinta Indonesia dan lainnya. Bahkan militer Indonesia kerjasama dengan setiap kepala sekolah untuk periksa identitas, suku, asal kampung dan lainnya. 

Ini jelas diskriminasi, RASISME, intimidasi, teror mental dan kekerasan yang luar biasa yang dilakukan oleh penguasa Kolonial Indonesia,TNI-Polri dan para guru-guru HARUS hentikan dan hilangkan kebiadaban ini.

Mahasiswa-mahasiswi Papua HARUS melawan dan menghentikan mitos-mitos dan stigma milik negara dan TNI-Polri yang memperparah luka membusuk dan luka bernanah di tubuh Indonesia. Mahasiswa-mahasiswi Papua di seluruh Indonesia dari mimbar kampus, jangan membisu, jangan diam, jangan takut, jangan ragu, jangan gentar, jangan berpura-pura, jangan memilih di zona nyaman dengan memanipulasi isi Firman Tuhan untuk menghibur penguasa Kolonial Indonesia, TNI-Polri yang membantai umat di tanah Papua. 

Mahasiswa afirmasi maupun non-afirmasi perlu menyadari bahwa mitos dan stigma separatis, monyet, primitif, anjing yang diproduksi penguasa Kolonial Indonesia dan TNI-Polri sudah merupakan kejahatan yang dilakukan negara yang merendahkan dan menghina martabat kemanusiaan orang asli Papua. Mitos dan stigma ini wujud dan wajah rasisme, ketidakadilan, pelanggaran HAM berat dan tragedi kemanusiaan. 

UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus adalah benar-benar menjadi mesin pembunuh masa depan Rakyat dan Bangsa Papua. Otonomi Khusus adalah benar-benar menjadi alat ampuh proses pemusnahan etnis Melanesia Papua lebih, cepat sistematis dan tidak menimbulkan kecurigaan-kecurigaan dari masyarakat internasional yang peduli dengan tentang kemanusian. Otonomi Khusus adalah lembaga yang memperpanjangkan penderitaan, tetesan, cucuran air mata dan darah penduduk asli Papua. Otonomi Khusus adalah benar-benar meminggirkan penduduk asli Papua dari segala aspek. Otonomi Khusus adalah Pepera 1969 jilid ll yang telah gagal dan menjadi persoalan baru.

Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Tahun 2011 dibuat tergesa-gesa dan akal-akalan oleh Pemerintah Kolonial Indonesia karena Otsus telah gagal dilaksanakan di West Papua. UP4B adalah selimut pembungkus kekerasan dan kejahatan kemanusian dan kegagalan Otonomi Khusus di tanah Papua.

Pembangunan dan beasiswa seperti apa yang dimaksud Pemerintah Kolonial  Indonesia membangun Papua? Menurut saya tentang pembangunan dan arti dari pembangunan adalah memiliki hidup yang lebih baik dan bermartabat. Sedangkan Pemerintah Indonesia berpikir bahwa orang-orang Papua belum maju tertinggal terbelakang, terbodoh, dan primitif. Jadi pemerintah Kolonial Indonesia memajukan orang Papua dengan stigma atau mitos-mitos monyet, anjing, primitif dan jangan melawan negara karena kalian dibeli oleh negara dengan operasi militer dan operasi transmigrasi yang tanpa batas.

Mari, kita semua sadar, bangkit dan melawan penguasa Kolonial Indonesia yang menduduki dan mencaplok di atas tanah leluhur Papua. Tanah West Papua bukan tanah kosong yang dipermainkan oleh penguasa Kolonial Indonesia. Tanah Papua adalah sumber kehidupan kami Rakyat dan Bangsa West Papua. Tanah Papua adalah ‘mama’ kami Rakyat dan Bangsa West Papua. Tanah Papua  adalah pengharapan anak dan cucu kami. Oleh karena itu, tanah kehidupan rakyat Papua ini jangan pernah diserahkan kepada Negara Republik Indonesia dan tanah sumber pengharapan anak dan cucu ini jangan pernah serahkan kepada TNI-Polri yang berwatak milisteristik, rasis dan tidak punya hati nurani. 

Jika orang Papua menjual, berarti Anda menjual diri Anda dan kehilangan masa depan Anda dan jika orang Papua jual  tanah berarti Anda menjual masa depan anak dan cucu Anda. Seperti Philipina sekarang kehilangan tanah pusaka mereka sehingga mereka jual anak-anak mereka untuk mendapatkan uang dan uang itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan Thailand mereka telah kehilangan tanah dan sekarang lebih dari 200.000 perempuan di bawah umur 10 tahun dijadikan wanita PSK (Pekerjaan Seks Komersial) untuk mendapatkan uang dan uang itu dipergunakan untuk kebutuhan makanan keluarga. 

“Pemerintah Kolonial Indonesia, para dosen-dosen, guru-guru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan TNI-Polri hentikan mengajar dan mendidik orang Papua ilmu primitif, bodoh, anjing, monyet, tidak mampu dan ketinggalan, dan hentikan juga stigma atau mitos-mitos jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. sebab apa yang kau penguasa kolonial Kndonesia eksploitasi hutan papua, air, perkebunan, pertanian, kehutanan, emas, perak, batubara (Freeport) tidak seimbang dengan apa yang kau  penguasa Kolonial Indonesia memberikan kepada Rakyat dan Nangsa West Papua.”

Sadarlah Anda semua dengan pernyataan Prof. Dr. Franz Magnis, sebagai berikut: 

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia. Kita teringat pembunuhan keji terhadap Theys Eluay dalam mobil yang ditawarkan kepadanya untuk pulang dari sebuah resepsi Kopassus.

Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia … kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (Franz Magnis Suseno, (2015), Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, Hlm. 255-257)

Pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini, sulit dijawab oleh penguasa Kolonial Indonesia.

1. Mengapa penguasa Kolonial Indonesia tidak ajarkan sejarah Papua? 1 Desember 1961, 1 Mei 1963, 1 Juli 1971 dan proses Pepera 1969, dan Pemerintah Indonesia kenapa tidak ajarkan nilai-nilai budaya Papua, bahasa lokal Papua dan budaya-budaya yang dimiliki oleh Suku-Bangsa Papua?

Tapi sebaliknya yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar sampai perguruan tinggi adalah sejarah Indonesia dan nama-nama pahlawan Indonesia seperti Soekarno. Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Candi Borobudur, Candi Prambanan, gunung merapi dan semuanya Indonesia sentris atau Jawa sentris.

Pemerintah Indonesia menggap bahwa budaya Papua dan sejarah Papua adalah teroris dan primitif tidak ada nilainya.

2. Mahasiswa papua monyet, anjing, babi, primitif dan bodoh tapi kenapa mahasiswa Papua bisa masuk di kampus-kampus di seluruh Indonesia?

3. Pelajar Papua monyet, gorila, primitif dan bodoh, tapi kenapa pelajar Papua bisa gunakan seragam putih, abu dan mereka bisa masuk gedung sekolah di seluruh Indonesia?

4. UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua adalah kewenangan penuh kepada rakyat dan Bangsa West Papua tapi kenapa Pemerintah Kolonial Indonesia buat  Perpres Nomor 66/2011 tentang UP4B?

5. Kenapa Pemerintah Kolonial Indonesia berikan Otsus mesin pembunuh Rakyat dan Bangsa West Papua ini, tahun 2001 lalu memberikan, kenapa tidak berikan tahun 70-an sana?

6. Kenapa Pemerintah Kolonial Indonesia membuka afirmasi atau UP4B tahun 2014, tahun- tahun sebelum itu Pemerintah Kolonial Indonesia urus apa saja?

Do’a dan Harapan

Pertama, doa dan harapan ini, saya mau sampaikan kepada para pembaca artikel ini. Kepada saya akan menjadi bernilai, lebih berharga, lebih sempurna dan kedamaian benar-benar hadir secara nyata, kalau semua sahabat baik, kita bersama-sama melawan dan menolak serta menghapuskan mitos-mitos atau stigma-stigma yang diproduksi dan digunakan negara, dosen-dosen, guru-guru dan TNI-Polri, yaitu monyet, anjing, babi, primitif, orang hutan, separatis, makar, dan yang terbaru Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan bangsa saya yaitu, Bangsa West Papua, orangtua saya di Nduga, Intan Jaya, dan Puncak Jaya diburu oleh oleh militer Indonesia atas perintah dari Jokowi sebagai kepala negara dan panglima perang tertinggi. 

Mari, kita semua generasi penerus Bangsa West Papua bangkit dan melawan penguasa Kolonial Indonesia, Tni-Polri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dosen-dosen dan guru-guru yang berwatak rasis terhadap rakyat dan Bangsa West Papua ciptaan Tuhan yang sempurna.

Kedua, selamat membaca dan merenungkan tulisan ini dan memilih serta menentukan sikap untuk melangkah. Jangan tidur lelap terlalu lama, jangan takut, jangan diam, jangan bisu, jangan buta, jangan tuli dan jangan takut kehilangan kekuasaan atau jabatanmu. Anda semua, terutama Orang Asli Papua, Anda sudah seperti seekor binatang KATAK yang sudah diletakkan dan sedang hidup dalam sebuah kuali atau belangga yang diisi air dan sudah diletakkan di atas api yang sedang menyala. Anda tidak sadar bahwa air itu perlahan-lahan sedang menjadi hangat dan panas dan sebentar lagi akan memasak atau memusnahkan Anda.

Bangunlah dari tidurmu, bangkitlah dari ketakutanmu, bangkitlah dari zona nyamanmu, bukalah matamu, dengarlah teriakan dan tangisan orang-orang pengungsi Nduga, Intan Jaya dan Puncak Jaya. Bukalah mulutmu untuk melawan stigma atau mitos-mitos yang dipelihara oleh Negara Indonesia.

Dan yang lelap dan terlalu lama, sadarlah dari kenyaman dan kemapanan semu, keluarlah dari zona nyaman hampa. Tinggalkan pujian-pujian prestasimu yang menghancurkan. Tinggalkan Otsus Papua atau mesin pembunuh Rakyat dan Bangsa West Papua dan masa depan anak cucumu sudah, sedang dan akan dihancurkan dengan mitos-mitos atau stigma: separatis, makar, monyet, primitif bodoh dan jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. 

Ketiga, doa dan harapan saya, semoga artikel saya ini, dibaca oleh berbagai komponen penguasa Kolonial Indonesia  yang berkuasa di Negara Kolonial Kndonesia dan yang terutama kawan-kawan mahasiswa afirmasi atau UP4B yang sedang menempuh pendidikan di seluruh Indonesia maupun di luar negeri.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….” (Kejadian 1:26).

Pemerintah Kolonial Indonesia, TNI-Polri, dosen-dosen dan serta  guru-guru sebagai penguasa asing di Papua perlu membaca Firman Allah, bahwa Allah tidak pernah berfirmlah: “Baiklah Kita menjadi orang asli Papua sebagai separatis, makar, monyet, anjing, primitif dan bodoh. Jadi, Penguasa Negara Indonesia, TNI-Polri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dosen-desen serta guru-guru HARUS berhenti membangun Pemerintahan Neraka dan Kerajaan Iblis di atas wajah tulang-belulang dan roh-roh leluhur kami di atas tanah ini dengan mitos-mitos yang rasis.

Para penguasa kolonial Indonesia, TNI-Polri, dosen-dosen  dan para pemimpin Gereja, mari belajar Firman Tuhan dikutip tadi. Tuhan tidak menjadikan orang asli Papua dengan mitos-mitos separatis, makar, monyet, anjing, primitif dan bodoh. Jadi, hanya orang-orang terkutuk yang selalu memproduksi mitos-mitos ini dan merendahkan dan menghina martabat kemanusiaan orang-orang asli Papua. 

Masalah kemanusiaan, pelanggaran berat HAM, ketidakadilan dan rasisme serta tragedi kemanusiaan tidak bisa disembunyikan dengan mitos-mitos dan stigma-stigma kuno dan usang monyet, primitif, bodoh dan jangan melawan negara karena kalian dibiayai oleh Negara Indonesia. Harga diri dan martabat lebih tinggi dan lebih berharga di mata Tuhan daripada harga Negara Kolonial Kndonesia.

Mari, kita semua sadar bangkit dan melawan dan membuka atau membongkar kebohongan negara, kejahatan negara dan kebusukan Negara Kolonial Indonesia.  

Akhir kata, saya respek atau menghormati setiap orang INDONESIA, siapapun dia sebagai sesama manusia. Tetapi, saya menolak kebijakan penguasa Kolonial Indonesia dan saya akan melawan rasisme dan diskriminasi sekarang sampai seterusnya yang rasis yang menindas rakyat dan bangsa saya Melanesia di West Papua dengan mitos atau stigma: separatis, makar, monyet, anjing, gorila, primitif, bodoh dan tidak mampu yang rasis.

*Yordan Nyamuk merupakan orang asli Papua: tanah kelahirannya di Kabupaten Nduga, West Papua. Dia masih muda: makanya memiliki semangat yang meledak-ledak, tidak kenal menyerah, dan berani menantang resiko. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di salah satu kampus populer di Indonesia.

Sumber: Independent Movement

Facebook Comments Box