Salibkan dan gantungkan ular kolonialime NKRI dan imperialisme dimana mana.

By: Octovianus Motte

Tidak terasa dalam kehidupan rohani kita sudah memasuki akhir minggu ke 4 pekan prapaskah 2021, minggu depan kita memasuki minggu suci. Sementara dalam kehidupan politik dan keamanan, kita terkepung secara luar biasa.

Dalam tulisan lalu saya ajak kita refleksi akan virus bernama NKRI yang belum ada vaksinya. Minggu ini saya hendak mengajak kita untuk keluarkan virus itu dan gantungkan dan tanjabkan dimana mana laksana ular tembaga yang dilakukan Moses sesuai perintah Tuhan. Kita juga gantungkan kelemahaan kita yakni mengandalkan car akita dan bukannya melihat keatas dalam menghalau musuh keluar dari negeri kita.

Minggu depan kita memasuki perjalanan salib dengan Yesus sang bintang fajar memimpin kita memasuki Yerusalem Baru ditandai pesta kemenangan Iman kita, Pesta Paskah. Inilah saatnya, sekarang ketika kita terkepung baik secara militer maupun politik, sebagaimana yang dilakukan George Washington di Amerika Serikat dalam perang kemerdekaan menghalau pasukan Inggris. Ia bergabung dengan seluruh rakyat Amerika yang dia himbau sebagai panglima perang untuk lakukan doa dan puasa, sebelum melanjutkan peperangan terakhir. Buahnya mereka menang gilang gemilang, inggris kalah dan lahirlah Negara Republik Amerika Serikat.

Kita terkepung

Jumlah pasukan yang dikirim amat banyak, 9 Maret saja tiba 1.300 orang yang konon di tempatkan sepanjang garis perbatasan. Dalam bulan Januari 2 batalyon didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan untuk ditempatkan di wilayah Selatan Papua. Operasi militer di tingkat di wilayah Lapago dan Meepago, sebutlah 450 orang pasukan tambahan dikirim ke Intan Jaya. Penambahan itu diawali dengan pembentukan Komando gabungan wilayah pertahanan III ( Kogabwilhan 3) sejak mereka rekayasa kasus rasisme di Surabaya, Desember 2019 menghadapi orang Papua yang bersuara secara damai lawan rasisme. Tidak ada yang tahu angka pasti berapa jumlah mereka? Juga tidak perna diumumkan kategori keadaan bahaya di tanah papua apakah papua daerah operasi militer, darurat militer atau darurat sipil?

Yang kita lihat dari sisi garis komando, yang dulu dikenal pasukan territorial dan pasukan non organic juga kabur. Pangdam bukan penguasa tunggul macam dulu. Kini satu orang Komandan Kogabwilhan dari Timika berpangkat Letjen, tiga bintang membawahi 2 orang berbintang 2 dan 6 orang bintang satu. Belum lagi mereka dua Pangdam dan wakilnya serta Kapolda dan Wakilnya serta pimpinan Armada Angkatan Laut dan Pangkalan Udara.

Pasukan dipusatkan di Maroke, Timika, kepala burung, Byak dan Jayapura dan disebar ke seluruh kota dan kampung di Tanah Papua entah atas nama pasukan organic, tempur, mata mata dan sebagainya dan termasuk pasukan elit dari setiap kesatuan. Dalam kasus pembunuhan masyarakt sipil di Intan Jaya perlihatkan dualism dalam garis komando. Yang bunuh adalah anggota pasukan territorial pakai perintah Kogabwilhan membuat almarhum Herman Asaribab tidak berdaya dan harus turun ke sana memaksa anak buahnya untuk bicara kebenaran. Sesudah sidak itu, si pembunuh mengakui perbuatannya, pimpinan Polisi Militer pun untuk pertama kali mengakui kebiadaban ini yakni membunuh lalu jasadnya dibakar untuk hilangkan jejak.

Klaim jurubicara Kogabwilhan bahwa yang dibunuh itu anggota TPN OPM yang berusaha rampas senjata itupun dibantah oleh semua orang termasuk Bupati Intan Jaya. Letjen Herman Asaribab pun meninggal secara misterius hingga kini belum jelas kasus kematiannya. Yang orang Papua tahu adalah prosesi kematiannya sama persis dengan Theys Eluay walau berbeda bentuknya.

Dalam kasus eksekusi Theys, Komanda Kopassus dari Hamadi memberikan baju kemeja berwarna putih untuk dipakai hadiri hari pahlawan 10 November. Tim penyelidik polisi dibawah pimpinan Kapolda Papua Made Pastika buktikan Kopassus habisi nyawanya malam itu ketika almarhum pulang ke rumah sehabis penuhi undangan. Dalam kasus Letnan Jendral Herman Asaribab, diberikan seragam baru berbintang 3, ke Jakarta guna check Kesehatan dan Latihan pelantikan sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dan pulang hanya nama. Tidak ada penyelidikan atas kematiannya sampai detik ini. Dua pemimpin Papua ini sama sama nasionalis Merah Putih, Dua dua di ujung usianya berani bersuara akan nasib rakyat bangsa Papua walau dalam gaya dan mekanisme yang berbeda namun terekam sepak terjang suara mereka terutama di kalangan orang dekat.

Bukan saja secara militer kita terkepung tetapi politik dan pemerintahan sipil juga. Hari ini, para pemimpin sipil orang papua pun di kangkang habis karena disebutkan Kerjasama sama dengan pejuang kemerdekaan, nasionalisme ganda. Katanya dari Gubernur dan Bupati hingga kepala desa dibilang menyalurkan dana otonomi khusus kepada pejuang kemerdekaan Papua. Aneh tentu saja, karena tidak terbukti dalam laporan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan yang dikirim langsung dari Jakarta. Sejumlah pejabat Papua yang punya nyali mencatat aneka rekayasa itu dalam catatan harian buktikan mafia kekuasaan yang bersembunyi dibalik jabatan mereka.

Dalam otonomi khusus lebih gila lagi. Sudah berulang kali, dari tahun ke tahun rakyat dan pimpinan papua sudah buktikan program colonial ini gagal total. Banyak tulisan dan buku maupun omongan berbusa busa mengisahkan secara detail fakta kegagalan tersebut termasuk yang dilaporkan Universitas Cendrawasih serta berbagai Lembaga Think Thank di Pusat maupun luar negeri.

Rakyat Papua dan termasuk Gubernur tolak dan usulkan perbaikan baru dan meminta agar ada ikatan tertulis agar ada sanksinya bila salah satu langar dalam pelaksanaan Undang Undang tersebut. Lukas Enembe dalam wawancara Televisi membuat wartawati MataNajwa yang cemerlang luar biasa menjadi speechless, tidak bisa dengar kata kata Enembe yang tidak percaya pemerintah Indonesia dan menuntut perpanjangan Otsus di tempuh dengan melibatkan pihak ketiga yang bisa menjamin perjanjian internasional tersebut.

Presiden Republik Indonesia, Djoko Widodo injak anak buahnya di Papua langar Undang Undang mereka sendiri dengan meminta DPR lakukan evaluasi bertentangan dengan isi Undang Undang tersebut yakni proses dari bawah naik bukan sebaliknya. Yang dibahas pun hanya dua pasal yakni pemekaran wilayah dan jumlah anggaran, dimana arahnya terang benderang bahwa dana di tambah untuk membiayai sekitar 5 Propinsi baru yang hendak dimekarkan.

Djoko Widodo tidak bertindak berlebihan, ia hanya membuka tabir yang selama ini coba ditutupi. Kini semakin terang benderang wajah asli Undang Undang ini sebagai salah satu program colonial Indonesia dalam mempercepat proses penghancuran tanah dan manusia Papua dalam waktu sesingkat singkatnya.

Majelis Rakyat Papua yang coba pakai mekanisme yang dimandatkan selenggarakan rapat dengar pendapat di 5 wilayah adat Propinsi Tanah Papua bukan saja di halangi melalui Kapolda Papua namun di kriminalisasi. Ada anggota MRP yang meninggalkan tempat penginapan karena di kepung aparat keamanan yang penuhi kamar sebelum ketemu dengar suara rakyat papua, ada yang ditangkap tatkalah melaksanakan tugas dan sejumlah rakyat Papua termasuk aktivis KNPB yang dituduh makar.

Ketika pimpinan MRP hendak bicara dengan pimpinan MPR RI melalui zoom, jaringan internet di tempat darimana komunikasih akan dilakukan diperlemah kekuatannya dan rencana tertunda. Itulah sebabnya keputusan MRP untuk menggugat Presiden Republik Indonesia melalui Mahkama Konstitusi adalah benar.

Dan lebih benar lagi sikap rakyat papua yang sudah melalui Petisi Rakyat Papua yang didukung lebih dari 6000 penanda tangan dari berbagai belahan dunia buah kerja dari 108 organisasi. Bahwa orang Papua tidak berjuang untuk berupaya hidup yang lebih baik dan aman bersama colonial Indonesia dalam apapun nama programnya. Merdeka adalah the only way out bagi keselamatan bangsa Papua.

Ular Tembaga

Bangsa Israel siang malam merasakan kehadiran dan bimbingan Tuhan melalui begitu banyak mujizat. Namun demikian ada saja yang mereka persoalkan dari urusan makan minum, perjalanan yang begitu panjang dalam ketidak pastian kapan mereka sampai di tanah yang dijanjikan hingga soal kepemimpinan Moses.

Hal itu juga terjadi dalam perjuangan bangsa Papua, para pejuang TPN OPM bisa berkisa bagaimana alam bekerja melindungi mereka hadapi tentara dan polisi colonial Indonesia. Kaum pejuang di kota, bahkan pengalaman pribadi saya dalam memperjuangkan kemerdekaan papua. Pada satu sisi, mujizat itu memberikan keyakinan bahwa yang kita perjuangkan suatu saat pasti berhasil. Namun pada sisi lain banyak mengeluh dan marah marah bahkan anggap Tuhan tidak adil, biarkan bangsa papua dihabisi di tanah sendiri dalam perjuangan yang sudah nyaris 60 tahun ini.

Tapi sebagaimana bangsa Isreal, Tuhan pun bernubuat akan kemerdekaan Papua Barat melalui Pdt Ishak Samuel Keine, yang salah satu lagu ciptaannya berjudul Hai Tanahku Papua menjadi Lagu Kebangsaan Bangsa Papua Barat. Keine bernubuat Kijne pernah bernubuat di atas batu Aitumeri di Wondama mengatakan bahwa, …diatas batu (Aitumeri, Wondama) ini saya meletakan peradaban orang Papua, sekalipun Orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri. Nubuat itu diturunkan pada tanggal 25 Oktober 1925, 3 tahun sebelum Pemuda Pemudi Indonesia menyatakan sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Dari sekian banyak kisah sejarah bangsa Isreal tersebut yang cocok saat ini dalam pekan prapaskah adalah perintah Tuhan kepada Moses buat ular dari tembaga dan gantung pada salib. Peristiwa ini terjadi ketika mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan kearah laut Taberau untuk mengelilingi tanah Edom yang gersang bukan main.

Mereka berkata melawan Allah dan Musa: Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati dipadang gurun ini? Sebab disini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak. Lalu Tuhan menyuruh ular ular tedung keantara bangsa itu, yang memanggut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan musa dan berkata: kami telah berdosa, sebab kami berkata kata melawan Tuhan dan engkau. Berdoalah kepada Tuhan agar di jauhkannya ular ular ini daripada kami. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa: buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang: maka setiap orang yang terpangut, jika ia melihatnya akan tetap hidup. Musa mengikuti nasehat itu, buat ular dari tembaga dan menempatkan pada sebuah tiang. Mereka yang terpangut ular memandang ular itu tidak mati seperti sebelumnya melainkan tetap hidup sesuai janji Tuhan kepada Musa.

Dari kisah sejumlah hal menarik yang relevant dengan perjuangan Papua. Dalam hal leadership, Musa mengandalkan Tuhan, tidak coba atasi dengan andalkan pengetahuan dirinya maupun bangsa Israel, melainkan cuma mengikuti apa yang di nasehatkan kepadanya. Dalam leadership perjuangan Papua merdeka banyak kali kurang dengar masukan orang lain apalagi merendahkan diri dihadapan mendengar dan mengikuti arahan dari surga, hanya menyuruh Tuhan melaksanakan rencana pribadi dan kelompoknya.

Perihal ular menurut Rabbi Monte Judah, ular ini bukan binatang baru yang tiba tiba muncul, karena banyak bersebaran didaerah tersebut. Yang terjadi adalah Tuhan membuka perlindunganNya yang selama ini Tuhan kenakan untuk memagari mereka agar mereka menjadi target gigitan.

Mereka menggerutu bukan karena kekurangan melainkan menolak Manna, makanan yang Tuhan siapkan setiap pagi sama dan maunya makanan dunia. Itulah yang terjadi dalam kisah manusia pertama, dimana Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena mengikuti bujukan ular yang menjanjikan kekuasaan yang sama dengan Tuhan bila mereka makanan buah dari pohon kehidupan dan kebenaran.

Ular dalam perjuangan Papua merdeka pun dialami sejak generasi pertama elit Papua , Soekarno dalam membujuk orang orang Papua dengan mengatakan Indonesia adalah jembatan emas menuju kemerdekaan. Mereka berpikir bahwa sebagai bangsa yang juga perna di jajah akan membantu bangsa Papua untuk merdeka tapi kenyataannya ikut Indonesia merupakan jembatan menuju neraka, menuju kehancuran sebagaimana yang dialami selama ini.
Ular ular itu sampai sekarang bergentanyangan dengan aneka janji janji pembangunan termasuk otonomi khusus, janji jabatan, manfaat ekonomi dan aneka kenikmatan dan lain lain. Dan banyak orang Papua yang terkena virus sehingga mereka juga entah sadar atau tidak menjadi sarana kolonialisme dan imperalisme dalam menghancurkan alam dan manusia Papua lainnya.

Banyak orang papua jual orang papua. Bukan saja Indonesia tetapi Belanda juga lakukan hal yang sama terhadap bangsa Papua ketika mengumbar janji angin surga mempersiapkan Papua menuju kemerdekaan. Pemimpin Papua yang menaruh harapan atas janji dunia barat akhirnya menelan pil pahit ketika menyaksikan Belanda menjual bangsa Papua melalui perjanjian New York yang di tanda tangani 15 Agustus 1963 tanpa libatkan orang Papua, lalu dalam pelaksanaannya tidak protes atas manipulasi yang dilakukan dalam Pepera 1969. Tidak hanya berhenti disana, saat inipun Belanda tidak perna bersuara dalam sidang Komisi Tinggi HAM atas kejahatan kemanusiaan terhadap bangsa Papua yang dilakukan Indonesia.

Seorang Pdt Senior asal Papua mengingatkan semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” ‭‭1 Korintus‬ ‭10:11‬ ‭TB‬ “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” ‭‭Yohanes‬ ‭3:14-15‬ ‭TB.

Kita orang Papua yang hidup di tanah Injil ini merasa sudah banyak berdoa dan berpuasa namun seringkali mengeluh kapan pederitaan ini berakhir. Jarang kita bertanya pada diri apakah kita bersihkan diri sebelum doa sehingga layak menghadap pencipta langit dan bumi. Lebih penting lagi apakah isi cara dan isi doa kita benar, sesuai dengan yang Yesus beri contoh dan ajarkan sendiri.

Apakah kita sudah pastikan sebelum doa untuk betul betul ampuni mereka yang bersalah kepada kita? Saat ini tentara hadir didepan kita, musuh itu jelas bukan angan angan maka dengan muda bisa terjebak dalam hukum Hammurabi dari babylonia yakni mata ganti mata. Ini tentu saja bertolak belakang dengan ajaran Yesus yang mengajarkan kesatuan kita dengan Allah Bapak, Putera dan Rohkudus, dan kesatuan kasih dengan sesama sebagai jalan keselamata kita. Sekali lagi memang bicara gampang namun tidak mudah kita bisa lakukan namun itulah salib.‬‬‬‬‬‬‬‬

Akhirnya saya hendak mengajak kita semua untuk mengambil waktu dalam minggu akhir prapaskah ini secara pribadi maupun bersama melakukan refleksi. Kita perlu sadari bahwa NKRI harga mati adalah virus warisan Belanda yang ditularkan kepada pendiri bangsa Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Yamin untuk menjadikan Papua sebagai bagian dari Indonesia. Virus ini serang otak manusia dari mereka yang terjangkit akan rela lakukan aneka kejahatan seperti ular yang gigitannya mematikan orang Papua.

Orang Papua pun banyak yang terkena, dimana entah berpartipiasi dalam mengigit sesamanya orang papua maupun orang lain yang terkena virus NKRI. Tindakan bunuh membunuh ini hanya bisa dihentikan bila kita berhasil keluarkan dari dalam diri kita virus gigitan ular NKRI dalam diri kita gantung di salib. Ketika kita pandang salib itu, yang kita lihat adalah virus yang mematikan, yang kita lihat adalah dosa dan kejahatan.

Dengan melihat keatas pada salib itu kita diingatkan apa yang Moses lakukan dalam Istana Firaun dimana ular yang keluar dari tongkatnya memakan semua ular dari tukang sihir bangsa Mesir, penjajah bangsa Israel. Dengan mengeluarkan segala dosa dan kekurangan dan gantungkan pada Yesus, penyelamat yang kita nyanyikan dalam berbagai aksi demonstrasi. Yakni kita bukan merah putih, kita bukan merah kita bintang kejora, bintang kejora. Bintang Kejora dalam Alkitab merupakan panggilan lain bagi Yesus.

Facebook Comments Box